[Fanfict] Les Lèvres de Jun

Les Lèvres de Jun

Tittle :
Les Lèvres de Jun
Cast :
Jun (Seventeen)
Park AeRi (OC)
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Campus life, Romance
Length : Ficlet ( 1705 words)
Rating : NC-17
Disclaimer : This story is Mine. Absolutely Mine! Dan aku hanya meminjam nama castnya, terimakasih ^^

Happy Reading ^^
940310-940412
©2015


Jun. Dialah namja yang telah berhasil merebut seluruh perhatian juga cintaku tanpa terkecuali. Mungkin kalian merasa familiar dengan nama Jun ini, ya.. dia adalah salah satu member boyband Seventeen yang tahun ini baru saja debut dan berhasil menorehkan namanya dalam sejarah dunia Kpop. Wen Jun Hui, itulah nama asli dari namja ini, ia berasal dari negeri tirai bambu dan terhitung sejak 3 bulan lalu, ia resmi menjadi kekasihku, Park AeRi.
Park AeRi, itulah namaku. Aku adalah seorang gadis biasa yang kini masih duduk dibangku kuliah tingkat pertama. Lalu bagaimana aku bisa bertemu dengan sosok Jun? ceritanya cukup singkat. Kami tak sengaja bertemu di perpustakaan kampus, dimana saat itu kami tak sengaja mengambil satu buku yang sama, yang membuat jemari kami saling bersentuhan dan disusul dengan manik mata kami yang seakan-akan terjebak pada satu garis yang sama – kami saling menatap dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama – 1 menit tanpa berkedip. Bermula dari kejadian itulah, aku dan Jun mulai berkenalan, dan tentu Jun lah yang pertama mengajakku berkenalan. Sejak saat itu, kami pun sering bertemu dan berkomunikasi satu sama lain, hingga akhirnya aku tahu bahwa Jun adalah seorang trainee disalah satu agency ternama di Seoul.

Awalnya aku merasa ragu, saat Jun mengakui perasaannya padaku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Mengingat, saat itu ia akan segera debut, dan tentu apabila ia telah debut, pasti ia akan memiliki fangirl yang tidak sedikit dan aku takut jika aku akan menjadi bulan-bulanan fansnya. Tapi, dengan pemikiran dewasanya – padahal disini aku yang lebih tua 4 bulan darinya, akhirnya Jun pun berhasil meyakinkan aku bahwa hubungan kami akan baik-baik saja dan Jun akan selalu melindungiku apapun yang terjadi. Tepat 10 Juni –saat perayaan ulang tahun Jun, aku pun resmi menerima cinta Jun, dan hari itu juga kami megikrarkan hubungan kami didepan 12 member Seventeen lainnya.

Tak terasa, 3 bulan sudah kami menjalin hubungan sebagai kekasih. Meskipun kami harus berkencan secara diam-diam, but it’s okay. Sepanjang Jun dan aku – kami saling mencintai dan percaya satu sama lain. Hari ini, aku dan Jun berencana untuk bertemu di perpustakaan Kampus, tempat semua cerita ini berawal. Aku selalu merasa terharu dengan sifat Jun, meskipun ia dan grupnya tengah sibuk-sibuk dengan jadwal mereka, tapi sesuai dengan janjinya dulu, Jun selalu mengunjungi ku setidaknya 2 minggu sekali. Dia sungguh pria idaman bukan? Apa kalian iri? Aku harap iya.

Dengan langkah memburu, aku pun segera menggerakkan kedua kaki ini – yang sayangnya tidak terlalu panjang, agar segera sampai ke tempat yang aku tuju. Setidaknya aku membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk aku bisa sampai dengan selamat di pintu perpustakaan. Mataku pun dengan lihai mulai mencari satu sosok yang sangat-sangat aku rindukan. Tak sampai 1 menit, akhirnya aku pun berhasil menemukan subjek yang aku maksud dan tanpa ragu, aku pun mulai menghampiri sosok yang kini tengah memakai hoddie hitam bergambar micky mouse, kesukaannya.

“Junnie, apa kau telah menunggu lama? Maafkan aku” ucapku dengan volume suara minimalis, mengingat saat ini kami tengah berada di perpustkaan.

Aniyo baby, aku juga baru saja datang. Lalu bagaimana harimu? Apa kau merindukanku? Mengingat kita hampir seminggu tak bertemu” Tanya Jun beruntun dengan tangannya yang kini mulai menggenggam tanganku lembut diatas meja.

“Tentu aku merindukanmu. Kau tau, untuk mengobati rasa rinduku bahkan aku harus melihat video performance mu setiap hari tanpa henti. Menyebalkan. Padahalkan aku sangat ingin memelukmu” ucapku kesal seraya tanganku yang menganggur mulai bermain-main dengan tangan kami yang masih bertaut.

“Jadi kau merindukanku?” goda Jun dengan sebuah senyum yang tak pernah hilang dari bibir merahnya. Tubuhku pun secara tak sadar mulai menegang saat manik mataku menangkap objek yang kini tengah menyunggingkan sebuah senyuman – bibir Jun.

Otakku pun kini tengah sibuk memutar kembali cuplikan games yang Jun dan member lainnya lakukan di acara Weekly idol silam. Dimana saat itu, bibir merah Jun dengan sangat lihainya memindahkan kertas yang aku katakan beruntung dari bibir The8 dan Dino. Sungguh, aku sangat cemburu dengan kertas merah itu, Dino dan juga The8. Bagaimana tidak? 3 pihak tersebut dengan beruntungnya telah merasakan lembutnya bibir Jun, sementara aku? Aku yang selaku pacarnya saja, belum pernah merasakan bibir milik Jun itu, menyebalkan. Sungguh, aku penasaran dengan bibir kekasihku itu, aku sangat ingin merasakannya.

“AeRi-ya, baby, kau kenapa? Sayang.. apa kau sakit” aku pun tersadar dari lamunan bodohku, saat telingaku menangkap suara lembut Jun.

“Eoh, aniyo. Maaf Jun, tapi tadi kau bilang apa?” tanyaku bodoh dan mencoba menutupi rasa gugup, akibat bibir Jun yang sangat menggoda itu. Apakah Jun sangat pintar dalam hal berciuman? Aku jadi penasaran.

Dengan pikiran yang semakin kacau dan udara yang menurut aku semakin menipis – akibat pesona seorang Jun yang sangat memabukkan. Akhirnya pertanyaan itu pun tanpa sadar terlontar dari dalam mulutku.

“Apa kau pernah berciuman, Junnie?

Hening. Jun pun hanya bisa terdiam layaknya patung, setelah mulutku ini dengan santainya mengeluarkan pertanyaan yang sungguh sangat tak terduga. Aku pun semakin memandang Jun penuh penasaran, penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh namja yang memiliki tinggi 180 cm ini.

“Jadi kau pernah?” tebakku sekenanya, karena Jun masih saja tidak membuka mulutnya untuk menjawab. “Apa itu enak? Bagaimana rasanya?” sambungku lagi, yang kini berhasil membuat Jun menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku tebak.

Bukannya menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Jun menarik tangan kami yang sebelumnya memang bertaut untuk mengikuti langkahnya entah kemana. Aku pun mulai merasa kewalahan mengikuti langkah kaki Jun yang sangat cepat dan panjang, namun apa daya tarikan tangan Jun lebih kuat dibandingkan rasa lelahku. Langkah Jun pun akhirnya terhenti saat kami mulai memasuki ruangan ensiklopedia yang memang sepi dan tak banyak mahasiswa yang mendatangi ruangan ini. Dengan cepat, Jun tiba-tiba medorong tubuhku ke salah satu lemari buku dan tak hanya itu, Jun pun ikut menghimpit tubuhku dari arah yang berlawanan. Aku pun hanya bisa memandang Jun dengan tatapan yang tak mengerti. ‘sebenarnya apa yang akan dilakukan anak ini?’ – batinku bertanya.

“Jun, u.. untuk apa kita kesini?” tanyaku pada akhirnya.

“Mengapa kau bertanya tentang ciuman AeRi-ya?” bukannya menjawab pertanyaanku, Jun malah melontarkan pertanyaan baru dan menuntutku untuk menjawabnya. “Dan mengapa kau berpikir bahwa aku telah melakukan ciuman sebelumnya, hemmm?” sambungnya lagi dengan jarak tubuh kami yang semakin menipis.

A..aniyo, hanya saja kau terlihat sangat berpengalaman saat permainan itu” jawabku sedikit ragu, saat kini kurasakan ujung hidung Jun teleh sempurna menyentuh ujung hidungku. Apa dia tengah menggodaku sekarang? Shit – batinku menjerit.

“Permainan? Maksudmu?” dapat kurasakan aroma mint yang menguar dan masuk ke dalam indra penciumanku saat Jun membuka suaranya dalam jarak yang sedekat ini. Demi apapun, aku ingin merasakan bibir kekasihku ini. Apa aku terlihat seperti gadis maniak? Biarlah. Aku tak peduli. Setidaknya Jun kekasihku bukan?

“Maksudmu permaianan yang mana baby?” ulang Jun masih dalam jarak yang sungguh sangat membuatku lupa untuk bernapas.

We.. Weekly idol” jawabku pada akhirnya setelah sebelumnya aku harus bersusah payah mengumpulkan seluruh tenagaku untuk menolak pesona Jun yang sangat menggoda.

“Jadi kau melihatnya?” balas Jun yang mulai menarik tubuhnya untuk sedikit menjauh dari tubuh kecilku. Aku pun hanya mengangguk membenarkan pertanyaannya itu. Tanpa sadar aku pun mulai menggigit bibir bawahku pelan saraya mataku menatap mata Jun yang sangat ku rindukan.

“Ohya, sebelumnya aku tak pernah melakukan hal ini dengan seorang gadis. Aku pertama kali melakukannya di acara itu, Jadi apa kau mau mencobanya baby? Menjadi yang pertama, hemm?” tawar Jun dengan nada yang sangat menggoda. Seperti terkena mantra yang entah berasal dari mana, aku pun tanpa sadar langsung menganggukkan kepalaku dan berkata “Ne” atas tawarannya yang sangat menggoda itu.

Tanpa menunggu waktu lama, Jun pun dengan segera menarik tengkuk dan pinggangku untuk mempertemukan bibir kami berdua. Rasanya lembut dan dapat kurasakan aroma mint, kini masuk kedalam muluku,. Jadi seperti inikah rasanya berciuman? Dengan lihai, Jun pun mulai menggerakkan bibirnya diatas bibirku, melumat bibir atas dan bibir bawahku secara bergantian. Sementara bibirku hanya bisa diam dan menikmati setiap alur pergerakan bibir Jun. Tak lama, tanganku yang menganggur pun mulai memeluk leher jenjang Jun dan semakin menariknya untuk memperdalam kegiatan kami. Aku sangat menyukai hal ini, benar seperti apa yang aku duga, bibir Jun memang sangat lembut dan memabukkan. Rasanya aku tak ingin melepaskan tautan kami ini. Dapat kurasakan kini kepala Jun tengah bergerak dari sebelah kiri ke sebalah kanan wajahku demi mencari posisi terbaik untuknya. Aku pun semakin mengeratkan pelukanku ditengkuknya dan berharap ia tak akan melepaskan tautan ini. ini sungguh menyenangkan. Belum lagi, kini kurasakan lidah Jun mulai menerobos masuk dan menggoda lidahku yang tak tahu harus berbuat apa. Gerakan lidah Jun sungguh sangat menggoda dan tentunya memabukkan, aku tak percaya jika Jun belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi bagaimana bisa ia selihai ini memainkan lidahnya dan menggoda lidahku. Jun kau benar-benar membuatku gila.

Kegiatan kami yang seru ini sayangnya harus terintrupsi, saat indra pendengaran kami mendengar suara derap langkah kaki yang sepertinya mulai mendekat ke dalam ruangan ini. Dengan nafas yang masih memburu dan penampilan kami yang tidak bisa dikatakan baik, kami pun mulai melepaskan tautan kami dan saling bertukar pandang satu sama lain sambil tersenyum geli. Hingga kini kurasakan tangan kanan Jun yang mulai merapikan tatanan rambutku – yang bisa dibilang berantakan – dan menghapus sedikit saliva yang bercecer di sudut bibirku akibat ulahnya.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jun sedikit ambigu dengan tatapan mata yang tak lepas dari bibirku yang sebelumnya ia sentuh “Apa kau suka?” sambungnya lagi.

Tanpa ragu, aku pun mulai menjawab pertanyaan kekasihku itu “Tentu, itu sangat menyenangkan”. Jun pun hanya bisa tersenyum saat mendengar penuturanku yang kelewat polos. Dengan sebuah tarikan pelan, Jun pun kini kembali membawa tubuhku dalam pelukan posesif nan hangatnya. Ya, kembali.. kami tenggelam dalam gelora cinta kami masing-masing.

“Junnie, bolehkan aku meminta ciumanmu lagi? Bagaimana jika sehari dua kali? Siang dan Sore?” Pintaku pada Jun dan masih dalam posisi memeluk Jun. Jun pun mulai melonggarkan pelukannya dan menatapku dengan tatapan tak percaya. Mungkin ia tak percaya dengan permintaanku ini. Aku pun hanya bisa memberikan senyum polosku saat melihat wajah bingung Jun yang sangat sangat menggemaskan.

“Jangankan Sehari dua kali, setiap jam pun aku bisa memberikannya padamu , baby..” balas Jun pada akhirnya dan kembali menarik tubuhku dalam pelukannya.

“Kau berjanji?”

“Aku berjanji sayang, bibirku ini adalah milikmu..”

“Bibirku juga adalah milikmu Junnie..”
Begitulah akhir dari kisahku dan Jun, berawal dari rasa penasaran pada bibir milik kekasihku dan kini aku pun menjadi ketagihan dengan bibir merah nan menggodanya itu. Aku sungguh sungguh sangat menyukainya… dan aku tak mau sedikitpun berbagi dengan orang lain, karena Jun adalah milikku, ingat itu!!

END

*Okay, maafkan Noona ya, Jun, karena telah membuat kamu terlibat dalam cerita yang ada adegan kisseu-nya 😥 abisnya bibirnya Jun menggoda banget sih di Weekly idol, jadi aja bibir itu terus-terusan kepikiran sama noona ^^ hehehe
Sekali lagi, cerita ini hanya fiktif ya teman-teman hehehe^^

Annyeong!!

-LeeHyuRa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s