[Fanfict] This is Me

This is me

Tittle : This is Me
Cast :
Kang Seulgi as Cho Seulgi
Cho Kyuhyun
Seo Joohyun as Cho Joohyun
Jung Hoseok
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Family life, Friendship
Length : Ficlet (2184 words)
Rating : PG-15
Disclaimer : This story is Mine. Absolutely Mine!

Happy Reading ^^
940310-940412

Menjadi seorang anak dari ayah dan ibu yang terkenal, mungkin banyak orang yang berpikir itu menyenangkan. Tapi, pemikiran itu 100% salah. Hal itu tidaklah semenyenangkan yang kalian pikir, sebaliknya itu sangat membuatku merasa terbebani. Harus aku akui, berkat orangtuaku yang terkenal, semenjak lahir aku telah menjadi pusat perhatian semua orang. Semua orang selalu bertanya-tanya bagaimana aku tumbuh untuk kedepannya. Tapi, jujur. Hal ini sangat membuatku tertekan. Aku adalah aku. Aku tidak suka jika orang-orang mulai membandingkan diriku dengan ayah maupun ibuku.

Terlahir sebagai seorang Cho Seulgi, anak semata wayang dari pasangan Cho Kyuhyun dan Seo Joohyun. Membuatku kemanapun aku pergi selalu dibanding-bandingkan dengan kedua orangtuaku. Apakah ia memiliki suara yang merdu dan indah seperti kedua orangtuanya? Apakah ia pandai matematika seperti ayahnya? Atau ia rajin membaca buku seperti ibunya? Kapan ia akan memulai debut sebagai seorang idol seperti orangtuanya? – kurang lebih pertanyaan itulah yang selalu aku dengar setiap mereka mengetahui bahwa aku adalah anak dari seorang Cho kyuhyun. Aku lelah, sampai kapan mereka akan membandingkan ku dengan kedua orangtuaku? Aku adalah aku.

Harus aku akui, sejak kacil aku telah mengikuti berbagai les –pengasah bakat, mulai dari les piano, les Dance, les vocal, les matematilka, les biola dan yang sangat aku sukai les melukis. Ya, aku suka melukis. Berbeda dengan kedua orangtuaku yang lebih suka seni musik dan vocal, aku lebih menyukai seni melukis. Bagiku, melukis adalah suatu kegiatan menyenangkan yang bisa membuatkan ku lebih terbuka dalam melukiskan apa yang aku rasakan selama ini. Aku sangat menyukai saat cat warna dengan indah dan tidak teraturnya menutupi kanvas putih yang tak berdosa. Bukankah dunia memang seperti ini, dunia tidaklah sepolos seperti yang kita duga, dunia ini penuh warna. Oleh karena itu, aku akan menunjukkan pada dunia bahwa seorang Cho Seulgi ini berbeda dengan kedua orangtunya dan berhentilah membandingkan diriku dengan kedua orangtuaku. Karena pada dasarnya, kami memang berbeda.

“Seulgi-ya, hari ini apa yang akan kau lakukan sayang?” Tanya Eomma ku lembut dengan kedua tangannya yang kini sibuk mengoleskan selai strawberry pada lembaran roti tawar.

“Hari ini, aku akan pergi ke tempat Taeyeon Saem, Eomma. Hari ini jadwalku untuk les melukis”

“Kau masih mengikuti les melukismu itu, sayang? Appa pikir kau telah berhenti dan lebih fokus pada les matematikamu? Yeobo, bisakah kau bantu aku memasangkan dasi ini?” Tanya Appa yang baru saja menjejakkan kaki di ruang makan.

“Appa, sudah ku bilang aku suka melukis dan masalah jadwal lesku, bisakah aku berhenti dari beberapa les yang aku ikuti Eomma, Appa?”

“Biarkanlah Yeobo, kau tau, lukisan uri Seulgi sangat indah dan ia sangat berbakat dalam hal melukis. Aku bisa merasakannya sejak dulu iya kan Seulgi-ya?” ucap Eomma-ku yang kini terlihat tengah sibuk memasangkan dasi pada leher jenjang Appa. Karena badan Appa yang tinggi, maka Eomma pun harus rela berjinjit demi menjangkau leher Appa.

Aku pun hanya bisa mengangguk, mendengar sanjungan dari Eomma-ku itu. Eomma memang selalu seperti itu, mendukung anaknya apapun yang terjadi. Menurutku, Eomma lebih paham tentangku dibandingka Appa-ku yang sibuk itu. Walaupun pada kenyataannya tidak semua hal Eomma mendukung pendapatku.

“Benarkah Yeobo? Aku belum pernah melihat lukisan uri Seulgi, jadi aku tak tahu. Jadi kau mau berhenti les yang mana Cho Seulgi? Appa pikir, semua les yang kau ikuti saat ini, semuanya akan bermanfaat untukmu dimasa depan” balas Appa dengan nada suara tegas, tanda bahwa tak ada penawaran lain dalam kata-katanya.

“Appa, aku ingin berhenti dari semua les, kecuali les melukis dan les Dance. Bolehkah?”

“Mwo? Kau mau berhenti les vocal sayang? tidak, tidak. Kau sendiri tau kan, Eomma dan Appa-mu ini dulunya seorang penyanyi, karena itu untuk berhenti dari les vocal, Eomma tolak. Iya kan Yeobo?”

“Hemm, Appa setuju dengan Eomma-mu. untuk les piano apa setuju kau berhenti. Tapi les Matematika? Tidak Cho Seulgi, kau harus tetap ikut les matematika. Jika kau ingin mengurangi jadwal lesmu, kau bisa berhenti les Dance. Pokoknya tidak untuk les matematika dan les vocal” Ucap Appa tegas lalu menyesap secangkir coffee yang sebelumnya telah dibuatkan oleh Eomma.

Aku pun hanya bisa mematung sendiri dalam dudukku, selalu seperti ini. Sadar atau tidak sadar mereka selalu memaksaku melakukan sesuatu yang sebenarnya aku tak suka. Berhenti Dance? Tidak aku sangat menyukai itu, hanya di tempat les Dance lah aku bisa bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang entah sejak kapan aku labeli sebagai cinta pertama ku, lelaki bermarga Jung. Yang belakangan aku ketahui sebagai Jung Hoseok.
“Baiklah, Appa Eomma. Aku akan berhenti untuk les piano” dengan terpaksa akhirnya aku pun menuruti semua kehendak orangtuaku.

Kini dapat ku lihat kedua orangtuaku tengah memandangku dalam diam, dan setelah aku mengucapkan hal itu, tak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulut kedua orangtuaku. Hingga akhirnya Appa dan Eomma memilih untuk pergi ke kantornya masing-masing, setelah sebelumnya mereka mencium pipi ku satu demi satu.

“Selalu seperti ini” Batinku menjerit.

Kini aku pun tengah duduk sendiri di sudut ruangan les Dance-ku. Les Dance? Bukankah hari ini harusnya aku mengikuti les melukis? Hari ini aku sengaja membolos dari les melukisku, hanya untuk bertemu dengan cinta pertamaku, Jung Hoseok.

“Apa yang kau lakukan disini, Seulgi-ya? Bukankah jadwal lesmu itu besok?” ucap sebuah suara yang aku yakini sebagai suara seorang Jung Hoseok.

“Hoseok-ah, aku membenci orangtuaku” gumamku tanpa sadar.

“Mwo? Apa maksudmu Seulgi-ya? Bukankah orangtuamu itu sangat luar biasa. Bahkan aku ingin sekali memiliki orangtua seperti orangtuamu”

“Untuk apa memiliki orangtua yang luar biasa, tapi mereka tak pernah sedikit pun memikirkan tentang kebahagianku” lirihku seraya mencoba menahan buliran air yang mungkin akan menyeruak keluar.

“Apa masalah jadwal lesmu lagi? Bukankah sudah kubilang, kau harus membicarakan hal ini dengan kedua orangtua mu, Seulgi-ya. Mereka pasti akan paham jika kau membericarakannya dengan baik-baik”

“Percuma. Aku telah membicarakan hal ini dengan mereka tadi pagi, tapi apa hasilnya. Mereka masih tetap tak mengerti aku”

“Apakah seberat itu, Seulgi-ya?” Tanya Hoseok dengan nada suara yang sangat lirih dan tanpa aku sangka, ia pun tiba-tiba menarik tubuhku untuk masuk kedalam rengkuhannya. Ya, untuk pertama kalinya Hoseok memeluk tubuhku. Apa ini mimpi? Jika ini mimpi, maka aku tak mau terbangun dari mimpi indah ini.

“Bagilah sebagian bebanmu padaku, Seulgi-ya. Aku pasti akan senang hati menolongmu”

“Gomawo-yo, Hoseok-ah” balasku masih tetap dalam pelukannya.

‘Seulgi-ya, Taeyeon eonni bilang hari ini kau membolos dari les melukismu, apa itu benar?” Tanya Eomma saat aku baru saja sampai di rumah.

“Maaf Eomma, tadi aku bertemu dengan temanku” jawabku dengan suara pelan dengan kepala tertunduk.

“Kau membolos les, hanya untuk bertemu dengan temanmu? Pernahkah Eomma mengajarkan mu untuk membolos Seulgi-ya? Kau telah membuat Eomma kecewa, Seulgi-ya”

“Eomma pikir hanya Eomma yang kecewa? Aku juga kecewa pada Eomma dan juga Appa. Mengapa aku harus terlahir sebagai anak kalian? Jika aku bisa memilih, aku tak akan mau menjadi anak kalian. Hal ini sungguh sangat menyiksaku” ucapku tanpa sadar dan tanpa kusadari ternyata kata-kataku itu telah menyakiti hati Eomma-ku, Hal itu terlihat dari raut muka Eomma yang berubah menjadi mendung dan shock setelah mendengar penuturanku.

“YA! Cho Seulgi. Apa yang baru kau ucapkan pada Eomma-mu?” bentak Appa dari arah belakangku, yang bisa kutebak pasti Appa baru saja pulang dari kantornya.

“A.. Ap.. Appa..” Ucapku bergetar saat telingaku menangkap suara Appa yang sungguh sangat tak biasa itu.

“Cho Seulgi, cepat masuk ke kamarmu” perintah Appa penuh nada otoriter.

Tanpa menunggu waktu lama, aku pun langsung melangkahkan kakiku menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Sebelum aku berhasil meninggalkan lantai bawah, sayup-sayup kudengar suara Eomma yang terisak pada Appa.

“Oppa, apa yang telah kita lakukan? Mengapa Seulgi menjadi seperti itu? Oppa..”

“Tenanglah Yeobo, berhenti menangis. Besok pagi kita akan selesaikan masalah ini. Ayo, kita istirahat, kau pasti lelah”

Pagi hari ini, tidak seperti biasanya aku melihat kedua orangtuaku telah duduk di meja makan, tanpa mengenakan pakaian dinas mereka masing-masing. Apa hari ini mereka libur? Tidak seperti biasanya. Aku pun memberanikan diri untuk duduk berhadapan dengan Eomma dan mulai menikmati sarapanku pagi ini. Setelah aku menyelesaikan sarapanku, aku pun berniat untuk pamit. Tapi sebelum aku melaksanakan niatku itu, suara Appa yang tegas pun tiba-tiba muncul dan memecah keheningan sarapan ini.

“Hari ini, tidak boleh ada seorang pun yang keluar dari rumah. Dan kau Cho Seulgi, Appa dan Eomma tunggu di ruang kerja Appa sekarang”

“Mwo?” teriakku refleks saat aku mendengar perintah Appa itu.

“Tak ada penolakan Cho Seulgi” tegas Appa kembali. Aku pun mengalihkan pandanganku kearah Eomma, dan dapat kulihat kini Eomma tersenyum padaku, senyum yang memiliki arti – turutilah apa mau Appa-mu, nak. Jangan membantah. Kurang lebih seperti itulah arti dari senyuman Eomma itu. Appa dan Eomma pun mulai meninggalkan ku di meja makan sendiri dan bergegas menuju tempat yang Appa maksud sebelumnya. Setelah beberapa menit, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah kedua orangtuaku, masuk kedalam ruang kerja Appa.

“Cho Seulgi, apa maksudmu mengatakan hal seperti kemarin pada Eomma-mu? Apa kau tau, kata-katamu itu telah membuat Eomma-mu terluka?”

“Maafkan aku Eomma, Appa. Seulgi, tak bermaksud seperti itu. Seulgi hanya lelah”

“Lelah? Apa maksudmu sayang?” Tanya Eomma penasaran.

“Eomma dan Appa tak tahu, selama ini Seulgi merasa tertekan karena Seulgi adalah anak Eomma dan Appa. Semua orang selalu membanding-bandingkan Seulgi dengan kalian. Saat Seulgi pertama masuk sekolah, semua orang masih memperlakukan Seulgi dengan wajar dan biasa. Tapi, setelah mereka tahu bahwa Seulgi anak Appa dan Eomma, mereka menjadi berlaku aneh pada Seulgi. Mereka menjadi lebih perhatian dari biasanya, dan memperlakukan Seulgi secara istimewa dan sungguh Seulgi membenci hal itu. Ditambah lagi, orang-orang disekitar Seulgi selalu menyamakan Seulgi dengan Appa dan Eomma. Seulgi adalah Seulgi, walaupun Seulgi adalah anak Appa dan Eomma, tapi Seulgi berbeda dengan kalian. Belum lagi, semua jadwal les yang harus Seulgi datangi, tidakkah Eomma dan Appa tau, Seulgi lelah mengikuti semua les itu? Dari semua les yang ada Seulgi hanya suka melukis dan Dance. Tidakkah Eomma dan Appa tau?” jawabku sebisa mungkin mencoba menumpahkan segala beban yang selama ini aku tanggung sendiri, tanpa ada seorang pun yang tahu. Dapat kulihat kini, Eomma dan Appa terdiam mendengar penuturan jujurku itu. Bahkan saat ini tangan kekar Appa tengah menggenggam tangan Eomma erat, seakan-akan Eomma akan pingsan jika Appa tak melakukan hal tersebut.

Hiks.. Hiks..
Sejenak kualihakan pandangan mataku ini kearah Eomma, dan sungguh aku tak tahu jika perkataanku sebelumnya membuat Eomma menangis seperti ini. Aku sedikit menyalahkan diriku sendiri, karena aku secara sadar ataupun tak sadar telah membuat Eomma menangis seperti ini.

“Eomma.. Seulgi tidak ber-“

“Maafkan Eomma dan Appa, sayang. Kami tak tahu jika selama ini kau merasa tertekan seperti ini. Kami melakukan ini semua, semata-mata hanya ingin membuatmu bahagia, Eomma tak tahu jika selama ini kau tertekan, maafkan Eomma..” ucap Eomma disela tangisnya. Aku pun tak bisa menahan rasa haruku saat Eomma meminta maaf padaku, bukankah harusnya disini aku yang meminta maaf. Aku pun tanpa ragu langsung memeluk tubuh ringkih Eomma-ku.

“Eomma, harusnya Seulgi yang meminta maaf bukan Eomma.” Lirihku disela-sela kegiatanku memeluk Eomma.

Tak lama kurasakan sebuah tangan lain yang kini memelukku dan Eomma, ya tangan itu adalah tangan kekar Appa. “Maafkan Appa juga Seulgi-ya, jika selama ini Appa selalu memaksamu untuk mengikuti berbaai les yang ada. Appa pikir kau senang dan menikmati les-lesmu itu, tapi ternyata Appa salah. Maafkan Appa, Seulgi-ya”

“Appa.. maafkan Seulgi juga. Seulgi tau, semua les itu demi kebaikan Seulgi. Tapi Seulgi lelah Appa” ucapku masih tetap dalam posisi kami bertiga yang masih berpelukan.

“Sekarang beritahu kami, apa yang ingin kau lakukan Seulgi-ya? Apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai? Kami akan menuruti semua maumu, Eomma dan Appa tak mau melihatmu tertekan seperti ini, iya kan Oppa?” Tanya Eomma setelah ia melepasakan pelukan kami bertiga.

“Aku, aku..”

“Beritahu kami Seulgi-ya, kami tak akan marah” pinta Eomma lembut.

“Aku ingin melukis, Dance dan latihan vocal hanya itu. Untuk matematika, tidak bisakah Appa yang mengajari Seulgi dan untuk Piano, tidak bisakah Eomma yang mengajari Seulgi?” pinta ku pada akhirnya.

Kini dapat kulihat Appa dan Eomma tengah berpikir dalam pemikirannya masing-masing dan terlihat seperti tengah menimbang-nimbang permintaanku itu.

“Baiklah, Eomma setuju”

“Appa juga setuju. Jika hal ini dapat membuatmu bahagia sayang”

“Eomma, Appa.. Gamsahamnida. Kalian yang terbaik”

“Tapi ingatlah satu hal, kau harus bisa mengembangkan bakat melukismu itu. Buatlah kami bangga sayang..”

“Eomma-mu benar, Appa tak sabar untuk melihat pameran lukisanmu sendiri. Appa akan menunggu hari itu Cho Seulgi”

“Siap, Eomma, Appa. Seulgi jamin, kalian tak akan menyesal dengan semua keputusan ini. Terimakasih Eomma, Appa. Aku mencintai kalian berdua”

“Kami juga mencintaimu, sayang” balas Eomma dan Appa kompak.

“Eomma, Appa. Apa yang kalian lakukan disini?” tanyaku penasaran saat kulihat kedua orangtuaku yang tiba-tiba datang ke tempat les Dance-ku.

“Kami berniat menjemputmu sayang. Oleh karena itu, hari ini Appa dan Eomma sengaja pulang lebih awal” balas Eomma dengan sebuah senyum yang tak pernah terlepas dari wajah cantik Eomma.

“Tapi Eomma, aku.. ak-“ penolakanku terpotong, saat tiba-tiba sebuah suara yang aku kenali sebagai suara Jung Hoseok, tiba-tiba muncul.

“Seulgi-ya, ayo kita pulang bersama. Maaf telah membuatmu men-. Oh, Annyeonghaseyo..”

“Hmm, Annyeong. Kalau boleh aku tahu, kau siapa?” Tanya Eomma mulai curiga.

Hoseok dan aku pun kini hanya bisa saling memandang satu sama lain dan memikirkan jawaban apa yang harus dilontarkan oleh namja itu kepada kedua orangtuaku. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya aku pun memutuskan untuk membuka suaraku.

“Dia pacarku Eomma, Appa. Jung Hoseok” Ucapku tiba-tiba dan berhasil membuat kedua orangtuaku itu membulatkan matanya tak percaya.

“Mwo? Pacar?”

“YAAKK! Cho Seulgi”

END.

-LeeHyuRa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s