[Fanfict] Jealous SooJung..

js

Tittle : Jealous SooJung..

Cast :
Jung SooJung
Kim Jongin
Taeoh dan Taeoh’ appa
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Romance, Friendship, Angst
Length : Ficlet (2011 words)
Rating : PG-16
Disclaimer : This story is mine. Absolutely mine.

Happy Reading ^^

© 2015 LeeHyuRa presents..

940310-940412

Aku tak tahu bahwa kekasih ku yang seringnya berkelakuan manja dan kekanakan itu ternyata bisa juga mengurus seorang anak kecil. Ya, Jongin. Kekasih ku yang memiliki kulit tan namun eksotis itu tanpa ku sangka-sangka, ternyata ia memiliki bakat untuk menjadi seorang penjaga anak.
Kejadian ini terjadi saat dua hari yang lalu tetangga ku, Ricky Ahjussi meminta bantuan ku untuk menjaga anak semata wayangnya, Taeoh. Awalnya aku menolak, karena aku sadar karena aku tak ada sedikit pun bakat untuk merawat seorang anak kecil. Jangankan mengurus anak kecil, berdekatan dengan anak kecil pun mungkin aku akan berpikir puluhan kali. Tapi tanpa ku duga dan ku sangka sebelumnya, tiba-tiba sosok itu muncul dan sosok tersebut berhasil mengubah pikiran ku yang awalnya A menjadi Z.

“Soojung-ah, tidak bisakah aku menitipkan Taeoh pada mu sebentar saja? Tiba-tiba aku mendapat panggilan untuk segera ke kantor dan kau sendiri juga tau kan, istriku sekarang tengah berlibur dengan eomma mu juga. Ayolah, kau mau kan?” pinta tetangga ku itu dengan muka yang sedikit memelas.

“Ahjussi, maafkan aku. Bukannya aku tak mau dan tak mengerti dengan keadaan mu sekarang. Tapi, hari ini aku juga punya urusan dan aku tak mungkin membatalkannya. Maafkan aku Ahjussi” jawabku dengan suara yang sangat menyesal, karena telah menolak permintaannya itu.

“Ayolah Soojung-ah, apa kau tega melihat Taeoh aku tinggal sendiri di rumah. Soojung-ah pleaseeeee. Ini tak akan lama, aku janji. Sekitar 3 jam, tidak 2 jam lagi aku akan segera kembali. Ayolah” keukeuh Ricky Ahjussi tak mau kalah seraya kedua tangannya semakin menggenggam tanganku erat.

“Tap-“

“Chagi-ya.. ” seru seseorang yang berhasil menghentikan ucapan ku sebelumnya.

“Eoh, Jonginie bantu aku” desis ku pelan, namun ku yakin Jongin masih bisa mendengarnya.

“Oh, ada Ricky Ahjussi. Ahjussi selamat siang dan.. Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Jongin curiga dengan tatapan matanya yang kini terpusat pada tangan ku yang tengah digenggam oleh Ahjussi ini.

“Eoh, Jonginie ini bukan seperti yang kau pikirkan in-” ucapanku otomatis terputus saat ku lihat dengan mata ku sendiri, tangan yang sebelumnya menggenggam tanganku erat kini beralih menjadi menggenggam tangan Jongin.

“Aaa.. Ahjussi apa yang kau lakukan?” Tanya Jongin terbata dan dengan kekuatannya ia mencoba untuk melepaskan genggaman itu.

“Apa kau dan Soojung akan pergi bersama? Tidak bisakah Ahjussi, ani maksudku tidak bisakah Hyung menitipkan Taeoh pada kalian? Hanya 2 jam, tidak lebih. Kau tidak keberatan kan Jongin? Hyung mohon.. “

“Taeoh? Maksud Hyung, anak hyung yang mirip dengan ku itu? Tentu boleh hyung. Boleh sekali. Aku juga sudah lama ingin bermain bersama dengan Taeoh. Itu pasti menyenangkan. Iya kan Chagi-ya?” jawab Jongin enteng dan sungguh jawabannya itu sangat jauh berbeda dari yang aku pikirkan. Bukankah hari ini kami akan berkencan? Lalu, untuk apa ia setuju untuk menjaga anak kecil itu? Sungguh menyebalkan. Terkadang aku tak mengerti dengan jalan pikiran kekasih ku itu.

“Chagi-ya, kau setuju bukan?” panggil Jongin yang berhasil menyadarkan ku dari dunia ku sendiri.

“Ba, baiklah” balasku dengan sangat terpaksa.

“Baguslah, aku sangat berhutang banyak pada kalian berdua. Dan sebagai balasannya aku akan mengajak kalian makan malam nanti, oke?”

“Tak usah seperti itu Hyung. Kami sangat senang membantu kalian. Jadi dimana Taeoh?” Tanya Jongin dengan kepala yang sengaja ia tengokkan ke kiri dan ke kanan, untuk mencari anak kesayangan nya itu, Taeoh. Tunggu, apa aku cemburu? Dengan anak kecil? Sungguh tidak mungkin.

“Taeoh sedang tertidur di rumah. Ayo kita bangunkan dia”
Aku dan Jongin pun dengan menurutnya langsung mengikuti langkah Tuan Kim, menuju rumahnya. Untuk apa lagi? Selain untuk menjemput balita kecilnya itu. Balita yang berhasil merusak kencan ku yang sangat aku tunggu-tunggu ini.

940310-940412

Disinilah kami sekarang di sebuah taman kota lengkap dengan semua barang keperluannya – kami disini bukanlah hanya aku dan Jongin, namun kata kami disini mengandung makna 3 orang, aku, Jongin dan sang adik kecil, Taeoh. Karena Taeoh, Jongin pun dengan terpaksa mengganti seluruh rencana yang sebelumnya telah kami susun. Rencananya hari ini aku dan Jongin akan pergi menonton dan makan bersama. Namun, rencana tinggallah sebuah rencana. Pada kenyataannya rencana yang telah kami buat dua minggu yang lalu itu harus rela kami batalkan.

“Chagi-ya, tersenyumlah. Kau membuat anak-anak di taman ini ketakutan dengan wajah tak bersahabat mu itu” bisik Jongin saat kami berdua tengah duduk disebuah bangku taman dengan mata ku yang tak pernah teralihkan dari sosok kecil yang kini tengah asik membangun istana pasirnya.

“Aku kesal, aku ingin menonton Jong” renggut ku kesal dan menarik Jongin agar duduk tepat disebelah ku, menghapus jarak yang sebelumnya tercipta diantara kami berdua.
Dapat ku lihat kini Jongin tersenyum dan menatapku lembut. “kita bisa pergi besok kan sayang? Dan sejak kapan kau manja seperti ini? Bukankah biasanya aku yang berlaku manja pada mu hmmm?” goda Jongin dengan tangannya yang kini mulai mencubit hidungku gemas.

“Ahh, appo” ringisku pelan dan tanpa menunggu lama aku pun balas mencubit pinggang Jongin kesal.

“Yayaya.. Jung Soojung, apa yang kau lakukan? Sakit”

Aku pun hanya bisa tertawa geli melihat Jongin yang tengah berakting kesakitan itu, Namun tawa ku langsung menghilang, saat mata ku menangkap sosok Taeoh yang kini mulai berjalan pelan ke arah kami.

“Noona, Hyung, Taeoh ingin es krim” pinta anak itu dengan suara khas anak kecil nya.

“Eoh, kau ingin es krim? Kajja, Hyung akan membelikanmu” seketika Jongin pun melepaskan genggaman tangannya di tanganku dan beralih menggenggam tangan Taeoh. Tanpa pamit, dua anak manusia itu pun langsung meninggalkan ku sendiri, disini, di taman yang tidak dapat dibilang sepi ini.
Apa Jongin mengabaikanku? Mustahil.

940310-940412

1 jam sudah aku duduk di bangku taman ini sendiri. Menunggu dua anak laki-laki itu kembali dengan es krim di kedua tangan mereka. Entah untuk keberapa kalinya aku memfokuskan mata ku ini pada satu titik yang sama, yaitu jalan yang sebelumnya Jongin lalui saat meninggalkan aku sendiri. Namun, bukannya menemukan sosoknya, hanya guguran daun yang tertiup anginlah yang tertangkap oleh indra penglihatan ku ini. Sebenarnya kemana mereka pergi? Setega itukah Jongin meninggalkan ku sendiri.

Tanpa menunggu lama aku pun segera mengambil ponselku dan menekan tombol 1, tombol yang akan segera menghubungkan ku dengan sosok berkulit tan tersebut.

“Maaf nomor yang an-” sial! Rutukku dalam hati saat indra pendengaran ku mendengar suara seorang wanita yang tentu sangat tak asing bagiku. Kebiasaan Jongin kembali, kebiasaannya yang selalu mematikan ponsel seenaknya tanpa memikirkan orang lain yang mungkin kini tengah membutuhkan kabar darinya.

Setelah mematikan panggilan tersebut, aku pun mulai bangkit dari dudukku dan ikut menyusuri jalan yang sebelumnya dilalui oleh Jongin. Berharap bahwa langkah ku ini akan segera membawaku untuk bertemu dengan sosok yang selama satu jam lebih telah meninggalkan ku.

Tak butuh waktu lama, langkah ku pun langsung terhenti saat ku lihat dengan mata kepala ku sendiri, kini namjachingu ku itu tengah bercanda ria dengan Taeoh di sebuah bangku taman. Sebenarnya apa yang Jongin pikirkan? Mengapa ia tega melupakan ku yang tengah terduduk sendiri di pojok taman untuk menunggunya? Sebenarnya kemana akal sehat Kim Jongin pergi?

Dengan napas yang memburu,aku pun mulai mendekati dua sosok yang sangat menyebalkan itu. Namun, belum genap kaki ku melangkah, secara refleks aku pun langsung menghentikan langkah kaki ku saat mataku menangkap sebuah kejadian yang cukup membuatku tak percaya. Taeoh mencium Jongin!!! Astagaaaaa,, mengapa aku merasa sangat kesal melihatnya? Jongin itu milikku dan tak boleh ada seorang pun yang menyentuh Jongin selain aku. Bahkan anak kecil sekalipun, aku tak akan bisa memaafkannya. Apalagi bibir Jongin, bibir itu adalah 100% milikku.

Tanpa menunggu lama aku pun semakin melebarkan langkah ku untuk dengan segera menghampiri dua anak manusia beda generasi itu.

“YAK! Kim Jongin! Apa yang kau lakukan disini? Tak tahukan kau, dari tadi aku menunggu mu di bangku taman sendiri? YAKKK!” semprot ku kesal saat aku berhasil berdiri dihadapan dua anak manusia itu.

“Eoh, Soojung-ah. Kau kemana saja? keep calm babe”

“Kemana saja? Maksud mu Jong?”

“Aku dan Taeoh sejak tadi menunggu mu disini babe. Kau yang kemana saja? Lihatlah, es krim mu saja sudah sejak tadi mencair” Ucap Jongin santai dan mencoba menggenggam tanganku hangat.

“Kau? Menunggu ku? Disini? Kau itu bodoh atau apa, Jong? Aku menunggu mu di bangku taman sebelah kolam bukan bangku dibelakang kolam? Apa kau itu amnesia, huh?”

“Mwo? Jadi aku selama ini salah menunggu. Eoh, Maafkan aku. Kau tak marah kan Jungieee?” Tanya Jongin seraya menampilkan aegyo andalannya – aegyo yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun kecuali padaku, kekasihnya.

“Kau memang bodoh Jong” ucapku sekenanya dan melepaskan genggaman tangan Jongin.

“YAK!! YAK!! Kenapa dilepas?”

“Aku masih kesal dengan mu, jangan menyentuhku. Ohya. Dimana Taeoh?” balasku ketus seraya mendudukkan tubuh ku ini disamping Jongin.

“Dia sedang bermain perosotan disana dengan teman barunya” jawab Jongin seraya jarinya menunjuk ke arah dimana Taeoj berada.

“Aku haus”

“Mwo? Kau haus? Makanlah es krim ini” tawar Jongin seraya menyodorkan sebuah kantung es krim padaku.

“Aku benci es krim yang mencair.. dan aku benci dirimu” ucapku begitu saja.

“Mwo? Kau membenci ku? Wae?”

“Kau itu kotor”

“Kotor?” Tanya Jongin dengan mulut yang kini penuh dengan krim es krim. Ya, ia memakan es krim yag sebelumnya telah aku tolak.

“Jong, aku ingin es krim itu?”

“Tadi bilang kau tak mau? Dan apa maksudmu aku kotor?”

“Entahlah. Coba kau pikirkan sendiri. Aku haus Jong, menunggu selama 1 jam sendiri dan kepanasan tanpa ada minum apa kau tak berp-“ ucapan ku terputus saat ku rasakan sebuah tangan menarik tengkukku pelan. Tak lama ku rasakan sebuah objek kenyal dan sensasi dingin mulai masuk ke dalam mulutku. Jongin? Apa ia gila? Di tempat umum seperti ini, ia malah mencium ku?

Rasa manis dari es krim coklat pun mulai memasuki indra perasa ku, tak lupa lidahnya Jongin pun yang semakin menggila didalam sana. Kiri – kanan, kanan- kiri, entah untuk ke berapa kalinya kepala kami ini berputar satu sama lain, mencari posisi senyaman mungkin. Sensasi dingin dalam mulutku pun secara perlahan menghilang dan tergantikan dengan sensasi panas dan sensasi ingin melakukan lebih daripada ini. Tapi otak ku masihlah berjalan dengan benar dan secara perlahan aku pun mulai mencoba untuk melepaskan tautan kami berdua. Berhasil, setelah mencoba sekuat tenaga akhirnya Jongin melepaskan pagutannya di bibir ku ini.

“Jong, ini tempat umum”
“Aku tahu”

“Dan kau masih melakukannya?” Tanya ku tak percaya

“Semoga Taeoh tidak melihat apa yang tadi kita lakukan” sambungku seraya mata ku mulai mencari dimana sosok Taeoh.

“Tenang saja, dia tidak melihatnya babe”

“Bagaimana bisa kau seyakin itu, Jong? Bagaimana jik-“

“Taeoh tadi sedang membelakangi kita babe, jadi ia tak mungkin melihat kelakuan kita, Tenanglah. Apa kau masih merasa haus babe?”

“Semoga yang kau katakana itu memang benar, Jong. Aku sudah tak haus lagi. Jangan macam-macam Jong”

“Tapi sekarang aku yang haus babe”

“Minumlah air mineral itu” ucapku sekenanya seraya jariku menunjuk sebuah botol air mineral yang teronggok cantik disebelah Jongin.

“Aku ingin bibir mu babe”

“Yaaak! Dasar Byuntae!”

“Ohya, tadi aku melihat kau dicium oleh Taeoh? Heol. Daebak. Kau itu milikku Jong, dan bibir mu itu juga milikku. Jadi tak boleh ada yang menyentuhnya selain aku”

“Babe, Taeoh itu hanya anak kecil. Apa sekarang kau cemburu dengan anak kecil?” Tanya Jongin tak percaya seraya menunjukkan senyum menyebalkannya.

“Tapi dia kan tetap manusia Jong. Cemburu? Dalam mimpimu Jong” balasku kesal sambil mempoutkan bibirku.

“Berhenti mempoutkan bibirmu babe, aku jadi ingin menggigitnya lagi”

“Gigitlah” tantangku yang berhasil menumbuhkan sebuah smirk evil di wajah tampan kekasihku itu.

“Bolehkah?”

“Hmm, tapi tidak disini. Di bioskop? Sekarang? Bagaimana?”

“Baiklah, kau telah berjanji nona Jung dan jangan berani-beraninya kau melanggar janji mu itu” ancam Jongin tepat di telinga kanan ku yang berhasil membuat bulu kudukku berdiri dengan sendirinya.

“Kajja” ajak Jongin seraya tangannya menggenggam tanganku erat lalu kami berdua mulai berjalan mendekati tempat Taeoh berada.

“Taeoh-ya, kajja kita pulang. Appa mu sudah pulang dan Hyung juga harus segera pergi “bermain” dengan Noona mu ini. Kajja” perintah Jongin dan dengan sengaja ia menekankan kata bermain diucapnnya itu. Tanpa menunggu waktu lama, Taeoh pun segera menghampiri kami berdua dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah imutnya itu. Sungguh manis.

Kami bertiga pun mulai berjalan meninggalkan taman kota ini dengan tangan kanan Taeoh yang berpegang padaku sedangkan tangan kirinya berpegang erat pada kekasih ku Jongin. Hari ini, meskipun awalnya dibuka dengan hal yang menyebalkan untukku namun hari ini juga ditutup dengan sangat menyenangkan. Jong, kau memang selalu membuat hari ku yang tadinya nothing menjadi something. Love you Jong~~~

END.

-LeeHyuRa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s