(Fanfict) I’m Different

imdifferent

Tittle : I’m Different
Cast :
Lee TaeYong (TaeYong SMRookies)
Lee HyeRa
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Married life, Romance, Angst
Length : Ficlet (1994 words)
Rating : NC-17
Disclaimer : This story is Mine. Absolutely Mine!

Happy Reading ^^
940310-940412

Pernikahan, mungkin untuk sebagian orang di dunia ini pernikahan merupakan sebuah ritual sakral yang akan menghantarkan kita pada pintu gerbang kebahagiaan. Tapi sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk ku. Di usia ku yang baru memasuki usia 25 tahun ini, aku harus rela melepaskan masa-masa indah lajang ku 1 tahun yang lalu dan menikah dengan seseorang yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Perjodohan, itulah yang aku rasakan. 1 tahun yang lalu, orang tua ku memaksaku untuk menikah dengan anak dari sahabat mereka. Dengan alasan sebuah janji, pernikahan yang tak pernah aku duga itu pun akhirnya dilangsungkan.

Lee Taeyong. Dialah nama suami ku itu. Suami yang entahlah sebenarnya dia mencintaiku atau tidak, mengingat pernikahan ini bersifat terpaksa untuk kami berdua. Taeyong adalah tipe pria yang sangat mencintai pekerjaannya dibandingkan apapun di dunia ini. Usia pernikahan kami pun kita telah memasuki tahun pertama, dan selama itu pulalah aku dan Taeyong tidur terpisah. Jangankan seorang anak, bahkan sampai hari ini pun kami tak pernah melakukan yang namanya ritual malam pertama, yang biasanya selalu dilakukakan oleh pasangan pengantin baru pada umumnya. Taeyong adalah sosok pria yang sensitif, bahkan dia sangat terobsesi dengan yang namanya kebersihan. Ia tak suka bila ia harus berdekatan dengan virus, kuman atau kotoran lainnya, selain pekerjaannya, kebersihan pun merupakan salah satu hal yang sangat ia perhatikan.

“Kau sudah bangun Taeyong-ah? Sarapanlah dulu, aku sudah membuatkan mu sar-“

“Tidak usah, aku pergi” ucapnya dingin dan ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan aku sendiri tanpa adanya kecupan selamat tinggal, yang biasanya selalu aku lihat saat appaku pamit pada eommaku dulu.

Selalu seperti ini. Selama setahun belakangan ini aku harus menanggung dan menerima jawaban yang sama setiap paginya. Entah mengapa, Taeyong tak pernah sedikitpun melirik ku atau berkata dengan baik padaku. Dia selalu menjauhiku. Aku tau dia itu sangat alergi dengan kuman dan sebagainya tapi, apa mungkin ia juga alergi padaku? Alergi pada istrinya sendiri? Apa ia selama ini menganggap ku sebagai kuman yang harus dihindari? Terkadang aku selalu ingin pergi dan mengakhiri pernikahan konyol ini, pernikahan yang pada akhirnya tak pernah memberiku kebahagiaan padaku. Tapi, pemikiran ku itu selalu menguap tiba-tiba setiap aku mengingat kedua orang tua ku dan Taeyong yang sangat bahagia saat kami menikah dulu. Tapi, sampai kapan aku harus menahan rasa sakit ini sendiri?

Seperti biasa, aku selalu menunggu Taeyong pulang kerja hingga larut malam. Jam di ruang tamu kini telah menunjukkan pukul 2 dini hari, dan suami ku pun masih belum juga kembali. Tidak seperti biasanya ia pulang selarut ini? Pergi kemanakah suami ku ini?

Aku pun dengan ragu mulai menghubungi ponsel Taeyong, untuk menanyakan dimana keberadaannya kini. Tersambung! Kini, telinga aku pun tengah disuguhi nada sambung ponsel yang sebentar lagi akan menghubungkan ku dengan sosok Taeyong.

“Tae-“

“Halo?” sapa suara seorang wanita diseberang sana.

“Kau siapa? Dimana Taeyong?” tanyaku mencoba berkata setenang mungkin.

“Ohh, Taeyong-ie? Dia sedang di kamar mandi. Aku? Aku kekasih pemilik nomor ini”

Kekasih? – gumamku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan tangan kananku pun segera memutus panggilan tersebut.

Kekasih? Begitukah? Jadi itu alasan Taeyong tak pernah menyentuhku selama pernikahan kami ini, jadi itu alasannya. B******k! Jika dia memang tak menginginkan hubungan pernikahan ini, mengapa ia tidak menceraikan ku saja? mengapa ia harus menyiksaku selama setahun belakangan ini? Apa ia menganggapku sebagai sebuah lelucon? Sial!

Keesokan Harinya

“Kau baru kembali? Kita harus bicara Lee Taeyong” ucapku tajam saat manik mataku menangkap sosok Taeyong yang baru memasuki rumah kami.

“Tidak bisakah kita bicara nanti, HyeRa-ya? Aku lelah” balasnya tanpa menatap ke arah padaku. –seperti biasa.

Aku pun hanya bisa mendengus kesal saat mendengar jawaban konyolnya itu. “Kau lelah suami ku? Tentu. Apa Kau semalam sangat bersenang-senang dengan kekasih mu itu?”

“Apa maksudmu?” ucap Taeyong yang kini mulai mengahadap kearahku dengan tatapan mata yang sangat menuntut –menuntut penjelasan yang lebih mengenai perkataan ku sebelumnya.

“Tidak usah berpura-pura bodoh Taeyong-ah. Sudah berapa yeoja yang kau tiduri selama pernikahan kita satu tahun ini? Aniyo, lebih tepatnya sudah berapa anak yang kau hasilkan Taeyong-ah dengan para gadis penggoda itu? Bukankah selama ini orang tua mu sangat mendambakan seorang cucu? Kau bisa membawa yeoja-yeoja itu kehadapan mereka dan ceraikan aku” ucapku yang tak bisa sedikitpun menutupi amarahku karena aksi main gilanya dibelakangku.

“Maksudmu apa? Yeoja? Kekasih? Yakk, kau pikir aku berselingkuh dibelakang mu hah?” balas Taeyong tak terima dengan pernyataan aku itu.

“Akting yang bagus tuan Lee. Kau pikir aku bodoh? Aku akui selama ini aku telah berhasil dibohongi oleh mu selama satu tahun lebih, tapi tidak lagi Lee Taeyong. Aku tak mungkin jatuh ke dalam lubang kebodohan yang sama”

“Yaaa, Lee HyeRa!! Sebenarnya apa yang kau bicarakan ini? Siapa yang selingkuh? Siapa yang menduakanmu? Lalu, anak dari wanita lain? Apa kau gila hah? Sadarlah, aku tak mungkin melakukan hal kotor seperti itu”

“Kau berharap aku percaya dengan semua omong kosong mu itu, Tuan Lee. Tidak akan pernah dan satu lagi, namaku Hwang HyeRa bukan lagi Lee HyeRa”

“Sekarang tanda tanganilah surat cerai ini, aku tak sanggup jika harus tetap hidup bersama dengan mu. Seorang suami yang tak pantas lagi aku panggil dengan sebutan suami” desisku dingin.

“Cerai? Yaaakk, kau gila HyeRa? Sampai kapanpun aku tak akan menceraikan mu. Bukankah kita telah berjanji untuk tetap hidup bersama selamanya? Apa kau lupa?”

“Hidup bersama selamanya? Kau bercanda Lee Taeyong! Sejak kapan kita hidup bersama? Kau selalu hidup dalam kehidupan mu sendiri. Kau tak pernah sekalipun menganggapku ada. Apa kau pikir aku ini semacam virus yang harus kau hindari hah? Berhentilah bicara omong kosong dan cepat tandatangani kertas itu” balasku seraya kedua mataku menilik selembar kertas yang kini Taeyong genggam dengan kasar.

“Kau ingin aku menanda-tangani kertas ini? Bermimpilah Nyonya Lee. Karena sampai kapanpun kau itu adalah milikku” dalam hitungan detik kertas yang sebelumnya Taeyong genggam itu pun kini telah hancur tak berbentuk – Taeyong dengan kasarnya merobek kertas tak berdosa itu.

“Kau gila Lee Taeyong? Sebenarnya apa mau mu? Kau tak pernah menganggapku ada dan tak pernah memberiku kasih sayang selama pernikahan ini, tapi kau juga tak mau melepaskan ku? Kau egois Tae. Kau hanya memikirkan kebahagian mu sendiri. Kau meminta kamar kita terpisah, okay.. aku setuju dengan hal itu. Kau meminta ku untuk tidak menyentuhmu barang sedikit pun? Aku juga menyetujuinya. Kau meminta ku untuk tak ikut campur dalam urusan pribadimu, aku juga dengan terpaksa menyetujuinya. Tidakkah kau pikir kau egois Taeyong-ah? Suami? Apakah pantas seorang pria seperti mu dipanggil sebagai seorang suami? Sebenarnya apa mau mu?” tangisku pun akhirnya meledak setelah aku mengungkapkan seluruh perasaan yang selama ini aku pendam pada suami ku yang kurang ajar ini.

“Sebenarnya apa ma-“ ucapanku terputus saat ku rasakan kini Tubuhku ditarik paksa oleh namja sial ini untuk masuk kedalam pelukan eratnya. Ini adalah untuk kedua kalinya kami melakukan kontak fisik, setelah sebelumnya kami berpelukan saat kami menikah satu tahun yang lalu. Cukup tragis bukan? Bagaimana bisa sepasang suami istri tak pernah melakukan kontak fisik selama usia pernikahannya. Tapi itulah yang terjadi.

“Le..pas. Nappeun Neo. Lepaskan ak-“

Bukannya melepaskan pelukannya, Taeyong malah semakin memeluk tubuhku erat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskan ku barang sedetik pun.

“Apa mau mu?” tanyaku pada akhirnya dan tetap berada didalam dekapannya yang erat.

“Aku tak akan menceraikan mu”

“Tapi, kenapa? Tidak kah kau berpikir pernikahan kita ini tidaklah sehat? Kau selalu mengabaikanku dan aku pikir tak ada yang namanya cinta didalam pernikahan kita ini”

Taeyong pun secara perlahan melepaskan dekapannya di tubuhku dan kini mata elangnya tengah menatap ku lapar.

“Aku mencintai mu”

“Wh..what?”

“Aku mencintai mu dan aku tak akan pernah melepaskan mu”

“Kau mencintai ku? Haruskah aku mempercayainya?”

“Tapi aku mencintai mu”

“Tapi pada kenyataannya kau selalu menyakiti ku! Menyakiti ku dengan segala sifat dingin mu itu”

“Aku tak mau kehilangan mu HyeRa-ya. Aku membutuhkan mu”

Aku pun terdiam mendengar segala ocehan Taeyong yang mengatakan bahwa ia mencintai ku. Apa ia gila? Ia mencintai ku, tapi kenyataannya ia selalu membuatku sakit dan terluka. Cinta macam apa yang membuat rasa sakit seperti ini.

“Okay, aku akui. Aku kadang bermain dengan yeoja-yeoja diluar sana, tapi itu ku lakukan karena aku tak bisa meyentuhmu. Aku butuh pelampiasan HyeRa-ya”

“Kau tak bisa menyentuh ku? Mengapa? Apa aku melarang mu untuk menyentuh ku? Tidak Lee Taeyong. Lalu? Apa aku tak cukup menggoda untuk mu, hah? sial! Kau benar-benar pria kurang ajar” pekikku tak terima seraya tanganku kini mulai menghadiahi tubuh Taeyong dengan berbagai pukulan-pukulan penuh amarah.

“Bukan seperti itu, tapi kau-“

“Tapi apa? Alasan apa lagi yang akan kau ungkapkan Taeyong-ah? Apa? Apa?”

“Aku mencintai mu HyeRa. Sangat! Aku tak suka melihat mu terluka. Kau itu bagaikan gelas permata yang rapuh yang harus selalu aku jaga. Karena hal itu aku tak mau membuat tubuhmu terluka, karena sifat posesif ku yang selalu muncul setiap kali aku berada di luar kendali ku. Tak tahukah kau, aku selalu menahan diriku sendiri saat aku melihat tubuh molek mu itu? itu sangat menyiksa ku, kau tahu? Oleh karena itu, aku selalu menjaga jarak dari mu karena aku tak ingin kehilangan kendali ku saat aku bersama dengan mu. Percayalah padaku, aku mencintai mu sangat! Aku tak meyentuh mu, bukan karena aku tak mencintai mu, aku hanya takut kau akan terluka..aku tak sanggup melihat mu terluka hanya karena ulah gila ku itu. Aku mohon, percayalah padaku…”

Aku pun hanya bisa menatap suami ku ini dengan tampang yang penuh akan ketidakpercayaan. Ia selama ini menahan diri dariku, hanya karena ia tak ingin membuatku terluka? Alasan macam apa itu? Bisakah aku mempercayai alasan irasionalnya itu?

“Apa kau serius?” akhirnya aku pun mulai angkat bicara setelah sekitar 10 menit lebih kami saling terdiam dengan pikiran kami masing-masing.

“Aku sangat serius HyeRa-ya. Kau adalah harta ku yang paling berharga yang aku miliki. Sampai kapanpun aku tak akan pernah melepaskan dirimu..”

“Bisakah aku percaya dengan semua ini Taeyong-ah? Kau mencintai ku? Bisakah aku percaya dengan ungkapan rasa cinta mu ini?”

“Percayalah, aku selalu mencintai mu” sekali lagi, Taeyong pun menarik aku ke dalam pelukannya bahkan kini dapat ku rasakan sebuah objek kenyal dan hangat tengah mengecup dahiku lembut.

“Aku mencintai mu dan Maaf untuk segala sifat dingin ku sebelumnya”

“Aku mencintai mu” ulang Taeyong dan kini tatapan matanya mulai menatap lurus ke arah bibir pink ku.

“Aku mencintai mu” setelah kata itu terucap, kini dapat ku rasakan bibirku beradu dengan sebuah objek, yang tak lain adalah bibir Taeyong dan kini Taeyong tengah melumat bibirku rakus dan kasar. Tak lupa tangannya pun kini tengah menahan tengkuk ku untuk semakin memperdalam kegiatannya itu. Aku pun mulai menikmati aksinya itu, hangat dan menyenangkan. Tak lama aku pun mulai mencegkram lengan Taeyong keras, pertanda bahwa kini aku sangat membutuhkan sebuah objek yang bernama oksigen. Ya, aku butuh bernapas.

Taeyong pun dengan segera melepaskan tautannya di bibirku dan menatap kedua mataku dengan pandangan menyesalnya.

“Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu. Inilah yang selama ini aku takutkan” sesal Taeyong tulus. Aku pun hanya bisa tersenyum melihat raut muka bersalahnya itu.

“Aku juga mencintai mu, Taeyongie” ucapku pada akhirnya seraya tanganku menangkup wajah Taeyong sayang. Sedetik kemudian, aku pun mengecup bibir Taeyong singkat.

“Jangan pernah menyakiti ku lagi, Taeyongie”

“Yaksok?”

“Aku berjanji Lee HyeRa”

“Tetaplah disamping ku apapun yang terjadi” sambung Taeyong dan kembali membawa ku kedalam pelukan hangatnya.

“Haruskah kita mewujudkan keinginan orang tua kita, sayang?” Tanya Taeyong tiba-tiba.

“Keinginan? Maksud mu?”

“Haruskah kita membuatkan mereka seorang cucu?” bisik Taeyong dengan suara yang terdengar sangat sexy.

Mataku pun langsung membulat sempurna saat telingaku menangkap ucapannya itu. “Cucu?”

“Tapi, ini masih jam 2 sore, Yongie..”

“Bukankah semakin awal kita melakukannya, itu akan semakin lebih bagus?”

“Yakk!! Neo..”

“Sudahlah.. Kajja. Aku berjanji tak akan menyakiti mu sayang”

Dengan sebuah tarikan pelan, Taeyong pun berhasil membawaku ke dalam gendongannya dan tanpa menunggu lama Taeyong pun membawa ku ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhku tepat diatas tempat tidurnya.

“Kau siap sayang?”

Taeyong pun mulai merangkak naik keatas tubuhku dan ia pun dalam hitungan detik segera mematikan lampu di kamar ini. Dalam kegelapan kamar ini, akhirnya kami melakukan ritual malam pertama kami yang hampr satu tahun tertunda.

Akhirnya, hari ini aku dapat merasakan kebahagiaan pernikahan secara utuh..
Kebahagiaan yang orang lain rasakan didalam kehidupan pernikahan mereka..
Aku mencintai mu, suami ku..

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s