(Fanfict) Airport Date

Tittle : Airport Date..
(Another Series of My Little Boyfriend)

Airport date

Cast :
Kim HyunRa (OC)
Ten (SM Rookies)
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Romance
Length : OneShot (2491 words)
Rating : PG-15
Disclaimer : This story is mine. Absolutely mine.

Happy Reading ^^

© 2015 LeeHyuRa presents..

940310-940412

Okay, kali ini aku bawa cerita lain dari pasangan Hyunra-Ten. Hehehe entah kenapa aku sekarang-sekarang tepatnya dari bulan lalu, lagi bener-bener tertarik dengan TEN SM ROOKIES, yang menurut aku dia tuh cute banget. Aku tau kok TEN itu tidak seganteng TAEYONG, tidak se-lucu YUTA, tidak se-cool HANSOL dan tidak setinggi JOHNNY, JAEHYUN dan DOYOUNG. Tapi entah mengapa ada satu hal, yang dimiliki oleh TEN yang bener-bener berhasil ngebuat aku melirik dan jatuh pada pesona TEN. Kyaaa~ walaupun TEN lebih muda 2 tahun dibanding aku, dan seumur dengan adik-ku.. tapi it’s okay, noona selalu mendukungmu TEN kkk. Ohya, cerita ini terinspirasi dari video Game time SMRookies di bandara, dimana di video itu TEN dan Taeyong dihukum untuk menjadi sepasang kekasih yang tengah berkencan. (Ten-aaaa, andwaeyoooooo…..)

940310-940412

Senin, adalah hari yang sangat menyebalkan untuk semua orang di dunia ini, termasuk aku. Bagaimana tidak? Di hari senin ini aku memiliki jadwal kuliah yang bisa dibilang cukup padat. 7 am until 12 pm, tanpa henti, sungguh menyebalkan. Ditambah lagi, tak seperti biasanya pagi ini Ten tidak mengirimi ku kabar, baik itu via Line, SMS atau jejaring sosial lainnya. Hal ini sungguh sangat sangat menyebalkan.

Karena mood ku di pagi hari ini yang kurang baik, aku pun memutuskan untuk diantar ke kampus oleh Ahn Ahjusshi. Sepanjang perjalanan aku pun hanya bisa menatap layar ponsel ku kesal, berharap seseorang yang tengah ku pikirkan kini akan mengirimkan sesuatu kabar segera. Tapi nihil, ponselku tetaplah sepi hingga mobil ku ini sampai di gerbang kampus.

Dengan langkah yang enggan, aku pun mulai melangkahkan kakiku ini untuk mulai memasuki pelataran kampus ini. Tak ada sedikitpun senyum yang terpatri di wajahku hari ini, datar dan dingin, itulah ekspresi yang aku tunjukan kini.

“Kim HyunRa!!” panggil seseorang yang berhasil membuat ku memberikan perhatian penuh padanya. Jung Hoseok. Dialah orangnya. Aku pun hanya memandang sosok namja itu tanpa ekspresi.

“Ku dengar kau berkencan dengan bocah SMA? Apa itu benar?” Tanya Hoseok sesaat ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.

Aku pun langsung menghembuskan napas ku kesal lalu menatap tajam namja disampingku ini
“Apa urusan mu?”

“Tentu itu urusanku. Sudah ku bilang bukan aku menyukaimu, dank au malah berrkencan dengan bocah ingusan? Apa kau gila?” jawabnya dengan nada suara yang terdengar meremehkan ku, dan aku sangat benci nada suara itu.

“Kau menyebalkan” gumamku cukup keras dan kedua kakiku mulai melangkah lebih cepat meninggalkan sosok yang telah membuat pagi hari ku ini semakin menyebalkan.

“YAKK, KIM HYUNRA, aku masih belum selesai bicara”

“YAKK!! YAKKK!!”

***

Akhirnya jadwal kuliah ku hari ini selesai, meskipun pagi ini aku telah dibuat kesal dengan berbagai hal yang sampai kapanpun tak ingin aku ulangi kembali. Dengan langkah terburu-buru, aku pun mulai melangkahkan kaki ini menuju pelataran parkir kampus, berniat untuk mengambil mobilku. Tapi, belum sempat niatku itu terwujud, aku pun tersadar akan kebodohan ku sendiri. Mobil? Bukankah hari ini aku tak membawa mobil? Bukankah pagi ini aku diantar oleh Ahn Ahjushi? Aishh, Jeongmal! Bagaimana bisa aku melupakan hal itu.

Dengan langkah yang terseok-seok aku pun kembali melanjutkan langkahku sebelumnya, tapi kini dengan tujuan berbeda, bukan tempat parkir tapi melagkah menuju halte bis yang tak jauh dari kampusku. Ketika aku melangkah, sayup-sayup ku mendengar sebuah suara yang memanggilku terus menerus. “HyunRa Sunbae, HyunRa sunbae”begitulah kurang lebih panggilan yang kutangkap oleh indra pendengaranku ini.

Aku pun segera menghentikan laju langkahku dan berniat untuk melihat siapa yang telah memanggilku itu. Kim TaeHyung. Dari jarak yang bisa dibilang cukup jauh, aku dapat menangkap sosok Taehyung dengan mata kepalaku sendiri.

“Ada apa?” tanyaku to the point saat Taehyung berhasil berdiri tegap dihadapanku.

“Sunbae, maukah kau pergi makan siang denganku? Ku dengar restoran di depan kampus kita ini memiliki menu baru yang enak, kau mau kan sunbae?”

“Aku sibuk, maaf” balasku sekenanya dan kembali melanjutkan langkahku yang tertunda.

“Nde? Hyunra Sunbae? Aku masih belum selesai bicara!” teriak Taehyung sedikit frustasi saat kurasakan jarak antara kami – aku dan Taehyung semakin menjauh.

“Sunbae” sekali lagi, telingaku ini mendengar sebuah suara yang memanggil namaku. Anak ini benar-benar.

Aku pun dengan segera membalikan badanku dan bersiap untuk memberikan sedikit omelan pada sosok lelaki keras kepala ini.

“YAKK, KIM TAEHYUNG SUD-“ ucapan ku teputus saat mata ku ini menangkap sosok lain di hadapanku, ternyata itu bukan Taehyung yang menyebalkan. Ia, ia, ia adalah Ten. Namjachingu ku sendiri. Bagaimana bisa?

“Taehyung?” ulang Ten dengan raut wajah yang sulit untuk aku deskripsikan.

“Ten-aaa” panggilku dengan raut muka yang terkejut, sangat terkejut. Ten? Di kampusku? Bagaimana bisa? Apa ini mimpi? Apa ini hanya ilusi ku saja? Apakah aku benar-benar merindukan namjachinguku ini, sampai-sampai aku berhalusinasi seperti ini?

“Yaaa, Chagi-ya..kau baik-baik saja?”

“Apa benar kau Ten? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah harusnya sekarang kau sedang sekolah. Apa kau-”

“Hari ini aku libur sayang, rapat guru” balasnya yang berhasil memotong pertanyaanku sebelumnya.

“Libur?”

Ten pun dengan santainya hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa pernyataan aku sebelumnya itu memang benar.

“Chagi-ya, ayo kita berkencan hari ini!” paksa Ten yang kini berhasil menggenggam tanganku erat dan membawaku entah kemana.

“Kencan? Tapi, aku tak membawa mobil hari ini. Haruskah aku meminta Ahn Ahjushi membawakan mobilku kesini?” tanyaku setelah berhasil mensejajarkan langkahku ini dengan langkah Ten yang sangat cepat dan lebar.

Tak lama langkah kami pun terhenti di depan sebuah mobil yang tidak ku kenal. Aku pun langsung manatap Ten dengan wajah penuh kebingungan dan mencoba untuk meminta penjelasan padanya – mobil siapakah ini?

Seakan mengerti dengan tatapan ku itu, Ten pun dengan santainya mendorongku untuk segera masuk ke dalam mobil yang tak ku kenal ini. Ajaibnya, aku langsung mengikuti perintahnya itu. Didalam mobil, aku pun hanya bisa terduduk dalam diam dan mencoba untuk mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.

“Ten-aa, mobil ini mobil siapa?” Tanyaku saat ku lihat sosok Ten telah mendudukan tubuhnya dengan nyaman disampingku.

“Tentu mobilku, sayang. Bukankah sudah ku bilang hari ini kita akan berkencan”

“Kau serius untuk berkencan? Hari ini?” tanyaku masih tak percaya.

“Hmm, tapi. Sebelum kita berkencan, kau harus mengganti baju mu itu” tunjuk Ten pada kemeja oversize yang tengah aku kenakan saat ini.

“Waeyo?”

“Kita akan memakai baju Couple. Apa kau suka?”

“Mwo? Couple?”

“Ne, pakailah chagi-ya” perintah Ten seraya tangannya menyerahkan sebuah T-shirt berwarna putih, dengan sedikit aksen merah didaerah bahunya dan tak lupa ditengahnya terdapat gambar Jerry si tikus yang sungguh sangat menggemaskan.

“Disini? Aku berganti disini?” tanyaku mencoba memastikan.

“Hmm, kau bisa menggantinya dibangku belakang noona” balasnya enteng.

“Mwoya? Tapi aku kan Yeoja, Ten-aa. Mana mungkin aku mengganti pakaian ku dihadapan namja seperti mu?”

“Bukankah kau memakai dalaman lagi noona? Jadi tenanglah”

“YAKKKK TEN-AAA” pekik ku kesal setelah mendengar penuturan polosnya itu.

“Arraseo, arraseo.. aku akan menunggu mu diluar mobil” ucap Ten mengalah dan dengan segera ia pun keluar dari mobil ini.

“Apa kau sudah selesai, chagi-ya?” Tanya Ten tak sabar, dan terkadang dapat ku lihat Ten mencuri-curi pandang kearah belakang.

“Yakk, Ten-aa jangan mengintip”

“Aku tak mengintip sayang”

“Kkeut, selesai. Kau bisa masuk sekarang”

Dengan segera Ten pun mulai memasuki mobilnya kembali dan melihat ke arahku dengan sebuah senyuman yang tak pernah hilang dari wajah tampannya.

“Itu cocok untuk mu, sayang”

“Gomawo..”

“Tapi tidakkah celana mu itu terlalu pendek, noona? Aku tak suka”

“Hmm?” aku pun hanya bisa memandang Ten tak mengerti, celana ku pendek? Menurutku tidak terlalu. Dapat ku lihat kini Ten tengah membuka Jaket yang ia pakai, dan terlihatlah T-shirt yang hampir sama denganku, namun dengan warna dan gambar yang berbeda. Jika aku adalah Jerry – Merah maka T-shirt yang dipakai oleh Ten adalah T-shirt dengan aksen hitam dan bergambar Tom si kucing yang menggemaskan. Mirip seperti Ten yang menggemaskan. Tanpa aku sadari, sebuah senyuman pun langsung terukir jelas di wajahku saat aku menyadari bahwa baju yang kami pakai adalah baju couple.

“Pakailah ini sayang, dan tutupi paha mu itu” pinta Ten lagi seraya tangannya menutupi paha ku dengan jaket hitamnya.

“Gomawo, Ten-aa” gumamku pelan lalu aku pun dengan beraninya mengecup pipi sebelah kiri Ten lembut.

“Saranghae” sambungku dengan sedikit malu-malu.

“Nado Sarangahae. Siap berangkat?”

“Hmm..”

Ten pun segera melajukan mobil yang ia kendarai menuju tempat yang ia tuju, dan sungguh aku tak tahu saat ini Ten akan membawaku kemana. Sepanjang perjalanan kedua tangan kami seperti biasa selalu bertautan denga mesranya dan tak ada sedikit pun niat dari kami untuk melepaskannya. Terkadang, Ten pun mencium punggung tanganku lembut dan hal itu selalu berhasil membuat bibir ku tertarik keatas secara otomatis. Ya, aku tersenyum.

***

Mobil yang dikemudikan Ten pun mulai memasuki sebuah bandara yang cukup terkenal di kota Seoul. Aku pun hanya bisa terdiam membisu memikirkan satu alasan mengapa Ten mengajakku berkencan dibandara seperti ini? Bukankah ini aneh? Berkencan di tempat umum? Sangat tidak biasa.

Mobil Ten pun kini telah terparkir sempurna disalah satu valet parkir yang tersedia di bandara ini. Dengan gentlenya Ten pun keluar terlebih dahulu dari dalam mobil lalu membukakan pintu disebelahnya untuk meminta ku agar ikut keluar. Tak lupa tangan Ten yang hangat pun kembali ku rasakan saat tangan itu dengan tidak berdosanya menggengam tanganku erat. Bahkan sangat erat.

“Bandara? Apa yang akan kita lakukan disini Ten-aa?” tanyaku saat kami tengah berjalan-jalan di pelataran bandara yang luas ini.

“Kita akan berkencan, sayang. Apa kau lupa?” balasnya santai.

“Disini?”

“Hmm. Kajja, kita beli sesuatu. Kau tentu haus bukan?” tawar Ten dan kini tangannya telah berpindah dari sebelumnya menggenggam tanganku, dan kini mengalungkan tangannya dibahuku. Seraya memelukku dengan posesifnya.

“Hmm” aku pun hanya bisa menggumam tak jelas untuk membalas pertanyaannya itu, tak lupa tanganku pun ikut melingkar indah di punggung tegap pacarku ini.

“Ten-aa, tidakkah kau merasa semua orang disini melihat ke arah kita?” bisik ku pada Ten saat ku rasakan bukan hanya satu tapi bahkan banyak orang yang memberikan tatapan nya kepada kami berdua.

“Itu mungkin hanya perasaanmu saja sayang”

“Aniyo”

“Sudahlah, sekarang. Apa yang ingin kau pesan my lovely?” Tanya Ten, saat kami sampai disebuah café yang cukup terkenal di bandara ini.

“Emm, terserah”

“Yaaa, aku tak menerima jawaban ambigu seperti itu sayang”

“Bagaimana jika Strwberry Yogurt Smoothie?” sambung Ten mencoba untuk membaca isi pikiranku.

“Mwo? Bagaimana bisa kau tau? Minuman itukan, minuman favoritku” tanyaku tak percaya saat mulut Ten melontarkan satu menu yang sangat aku sukai itu.

“Tentu aku tau. Aku kan pacarmu sayang. Baik, tunggulah disini, aku akan pergi memesan. Jangan kemana-mana” titah Ten setelah sebelumnya ia mengelus puncak kepalaku gemas. Aku pun hanya bisa menganggukkan kepalaku tanda bahwa aku mengerti dan mataku pun kini tengah tertuju pada punggung Ten yang semakin lama semakin menjauh.

“Ini dia pesananmu, sayang. Satu Strwberry Yogurt Smoothie dan untukku blueberry Yogurt Smoothie. Selamat menikmati” ucap Ten setelah mengantri cukup lama didepan sana.

“Gomawo, hmm.. ini sungguh menyegarkan. Kau mau?” tawarku pada Ten.

Tanpa ragu Ten pun ikut merasakan minuman yang ku pesan dengan sedotan milikku. Cara ini? bukankah ini berarti kami telah berciuman secara tidak langsung? – batinku menggila.

“Yummy, apa kau juga mau milikku sayang? Cobalah, rasa ini tak kalah enak dengan rasa strawberry milikmu” tawar Ten sambil menyodorkan(?) minumannya ke arahku. Dengan sedikit ragu aku pun menerima tawarannya itu, manis. Sangat manis. Apa yang membuat yoghurt nya terasa lebih manis? Apa bibir Ten lah yang membuat minuman ini menjadi lebih manis?

“Bagaimana? Enak bukan?” tanyanya yang berhasil menyadarkanku dari pemikiran bodohku sebelumnya. Aku pun hanya bisa bergumam tak jelas sebagai tanda jawaban atas pertanyaan nya itu.

“Ten-aa, sebenarnya apa yang kita lakukan di Airport ini? kita disini bukan hanya untuk berkencan kan?” curigaku pada pacarku yang satu ini.

Dapat ku lihat kini Ten terlihat sedikit gugup sesaat aku menyelesaikan pertanyaan itu. Dan aku yakin pasti ada yang salah dengan tingkahnya ini. aku pun semakin memicingkan mataku penuh curiga dan menuntut jawaban yang masuk akal dari mulut Ten sendiri.

“Jadi?”

“Ayolah Ten, berhentilah membuatku penasaran sepaerti ini. Kau menyebalkan” gerutuku sambil mengerucutkan bibirku kesal.

“Hmm, sebenarnya.. aku kesini, karena aku.. hari ini.. akan kembali ke Thailand” jawab Ten pada akhirnya, setelah sebelumnya ia berdiam seribu bahasa.

Otak ku yang tak terlalu baik ini pun, mencoba sekuat tenaga untuk mencerna setiap kata demi kata yang Ten utarakan sebelumnya. Hingga, akhirnya otak ku pun menyadari sesuatu.

“Mwo? Pulang? Thailand? Kapan? Berapa lama? Mengapa kau baru memberitahuku sekarang? Jahat!!’ ucapku bertubi-tubi dan tanpa ampun.

“Eoh, Mianhae, chagi-ya. Aku tak mau membuatmu khawatir, jadi aku baru bisa memberitahumu sekarang. Mianhae’

“Berapa lama kau akan pergi?” tanyaku dengan air mata yang entah sejak kapan telah mengalir dengan derasnya dari kedua mataku.

“Aku Tanya Berapa lama?” ulangku sambil terisak dan tak lama tangisku pun pecah. Aku tak peduli jika sekarang aku telah menjadi pusat perhatian seuruh pengunjung di café ini. Yang aku inginkan, Ten tetap disini, di Korea. Tetap disampingku.

“Yayaya, berhentilah menangis sayang. Semua orang jadi memperhatikan kita. Cupcupcup..” Ten pun kini mulai menarik tubuhku kedalam pelukannya dan menyembunyikan wajah penuh tangisku ini di dada bidangnya.

“Jangan pergi, jebal. Berapa hiks lama, hiks?” gumamku tepat didalam pelukannya.

“Miaanhae, cupcupcup, berhentilah menangis sayang. Aku tak lama disana, hanya satu bulan dan tak lebih. Secepatnya aku pasti akan kembali” jawabnya lembut, berharap hal itu dapat menghentikan tangisanku. Tapi itu semua sia-sia.

“Sebulan? Hiks.. huaaaa… Hajima” tangisku semakin menjadi saat aku mengetahui bahwa Ten akan meninggalkan aku sendiri selama satu bulan lamanya. Tanganku pun semakin erat memeluk Ten, sebagai tanda bahwa aku tak mau ia pergi.

“Chagi-ya, berhentilah menangis. Kau tau wajahmu sangat jelek saat kau menangis. Kkeut”

Akupun langsung melepaskan tanganku dipelukan Ten dan dengan segera menghapus air mataku kasar.

“Jahat” gumamku masih dengan suara serak.

“Pergilah, Ka!!”

“Eoh, kau mengusirku?”

“Ne, pergilah” ucapku tak terlalu jelas karena entah mengapa airmata ini kembali menyeruak untuk keluar.

Kembali, Ten menarik tubuh ringkih ku kedalam pelukannya. “Aku akan segera kembali, Chagi-ya. tunggulah aku”

“Arraseo, jadi kapan kau pergi?”

“Sekitar 20 menit lagi” jawabnya dengan senyum yang sangat mempesona.

“Secepat itukah?” tanyaku dengan airmata yang mulai menggenang lagi dipelupuk mataku.

Ten pun hanya menjawab pertanyaanku itu dengan sebuah senyuman khasnya. Senyuman yang mungkin selama sebulan kedepan tak dapat aku lihat secara live. Sekali lagi, aku pun kembali menyeruak kedalam pelukan kekasihku ini, mengabaikan seluruh pandangan orang-orang yang sejak tadi memandang kami.

“Cepatlah kembali”

“Aku berjanji, tunggulah aku noona”

“Berhenti memanggilku noona”

“Baiklah, tunggu aku nae sarang”

***

Disinilah kami sekarang, di perbatasan pintu keberangkatan bandara. Tangan Ten pun masih dengan setianya menggenggam tanganku erat. Mencoba membuatku untuk lebih tenang dan agar aku tak menangis lagi. Dapat ku lihat kakak dan adik Ten, Nichkhun oppa dan Bambam telah bersiap di pintu keberangkatan. Aku pun dengan mata yang sembab, hanya bisa membalas senyuman Nichkhun oppa dan Bambam diseberang sana.

“Jadi kau akan berangkat sekarang?” tanyaku setelah berhasil menatap mata teduhnya Ten.

“Ne, mianhae. Aku akan segera kembali” janjinya meyakinkan.

“Baiklah, tap-“ ucapan ku terhenti sempurna saat kurasakan kini bibir Ten tengah mencium bibirku lembut. Bukan hanya mengecup, tapi dapat ku rasakan bibir Ten secara perlahan bergerak lembut di bibir pink ku ini.

Tak lama, Ten pun melepaskan pagutan bibir kami. Dengan lembut Ten pun mulai mengecup kenaingku hangat lalu memeluk tubuhku untuk terakhir kalinya. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tanah korea ini.

“Aku pasti kembali”

“Kau harus kembali, jika tidak, aku akan pergi berkencan dengan Hoseok ataupun TaeHyung” ancam ku yang hanya dibalas dengan senyuman geli oleh namja dihadapanku ini.

“Cobalah jika kau berani”

“Kau pikir aku tak berani?”

“Jangan macam-macam selama aku pergi. Atau noona akan mendapat hukuman dariku”

“Hukuman? Aku mau dihukum” tantangku konyol.

“Baiklah, sayang. Jika kita terus berdebat seperti ini, bisa-bisa aku tertinggal pesawat da-“

“Itulah yang aku mau” potongku sukses.

“Heol, aku pergi.. bye! Ingat jangan macam-macam selama aku tak ada”

“Baiklah, hati-hati”

“Ohya, tadi aku telah menelepon Ahn Ahjushi untuk menjemputmu. Pulanglah dengan hati-hati, bye~” teriaknya cukup keras sebelum sosoknya itu menghilang dibalik pintu bandara keberangkatan.

“Kau harus kembali Ten-aa” gumamku pelan mencoba menegarkan hati ku yang terlanjur sakit ini.

“Kau pasti kembali” ulangku mencoba menyamankan hatiku sendiri, sebelum kedua kaki ini ku langkahkan untuk keluar meninggalkan bandara yang tiba-tiba terasa hampa ini.

“Kau harus kembali Ten”

“Harus”

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s