(Fanfict) My Little Boyfriend

Tittle : My Little Boyfriend

 my little boyfriend

Cast :
Kim HyunRa (OC)
Ten (SM Rookies)
Author : LeeHyuRa (@aniespur)
Genre : Romance
Length : OneShot (3914 words)
Rating : PG-15
Disclaimer : This story is mine. Absolutely mine.

Happy Reading ^^

© 2015 LeeHyuRa presents..

940310-940412

Cinta, kini aku percaya bahwa yang namanya cinta itu tak pernah mengenal usia dan juga status. Cinta dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja. Seperti yang tengah aku rasakan kini, di usia ku yang mulai memasuki angka 19 tahun ini, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan bertemu dengan sosok sepertinya. Sosok yang pada akhirnya menjadi namjachingu-ku, meskipun pada dasarnya ia lebih muda 2 tahun dari usiaku.

Ten, dialah nama namjachingu-ku. Saat ini ia masih duduk dibangku tingkat akhir sekolah menengah atas, sementara aku? Kini aku telah duduk di tingkat 2 bangku kuliah. Usia dan status kami yang berbeda tak pernah menjadi penghalang terhadap hubungan asmara kami yang telah memasuki bulan ke-5. Meskipun terkadang aku harus mendengar nasihat dan rasa tak percaya sahabatku, Lee Hyura dan Kim Hyura, setiap aku akan berkencan dengan Ten. Tapi, Hey! Bukankah jarak usia 2 tahun itu bukanlah suatu masalah yang besar?

“HyunRa-ya, bagaimana jika hari ini kita triple date? Kau mau kan? Ayolah~~ Aku dan Sehun, Hyura dan Jongin, dan kau..” ajak sahabatku, Lee Hyura yang dengan sengaja menggantungkan kata-katanya itu.

Aku pun hanya memandang salah satu sahabatku itu dengan pandangan datar dan dingin.

“Ten? Maksudmu Aku dan Ten? Tapi maaf, hari ini aku telah berjanji dengan Ten untuk pergi berkencan berdua. Maafkan aku Hyura-ya. mungkin kau bisa double date dengan Hyura yang satu lagi” balasku –tetap datar, seraya tanganku kini sibuk memasukkan segala barang bawaanku ke dalam tas ku asal.

“Kau akan berkencan dengan anak SMA itu? Astaga.. aku pikir kau telah putus dengan bocah itu?” kali ini giliran Kim Hyura yang angkat bicara. Sungguh, mengapa aku harus memiliki dua sahabat yang memiliki nama yang sama namun kepribadian yang berbeda. Lee Hyura yang terkenal dengan imej kalem dan lembutnya. Semetara Kim Hyura terkenal akan imej sexy dan ceplas-ceplosnya.

“Bocah itu memiliki nama Kim Hyura. His name is Ten. Dan berhenti memanggil pacarku dengan sebutan bocah. Dan ya, aku masih berkencan dengan Ten. Aku duluan duo Hyura, bye.. salam untuk pacar kalian Sehun dan Jongin” ucapku pada akhirnya lalu mulai melangkahkan kakiku untuk segera pergi dari ruang kelas ini, meninggalkan duo Hyura yang entah mengapa hari ini sungguh sangat menyebalkan untukku.

940310-940412

Disinilah aku sekarang, terjebak kemacetan lalu lintas kota Seoul yang tidak biasa. Sedari tadi ponsel ku bergetar tanda seseorang tengah memanggilku dan entah untuk keperluan apa. Tapi, dengan sengaja aku malah mengabaikan panggilan itu. Panggilan itu, panggilan dari Hoseok, salah satu teman sekelasku. Namja yang entah telah berapa kali aku tolak pernyataan cintanya itu, namun walaupun begitu ia tetap saja besikeras untuk mendekatiku. Tidak kah ia tahu bahwa aku ini telah menjadi milik orang lain? Menyebalkan.

Akhirnya mobil ku pun sampai di pelataran parkir sebuah sekolah menengah atas yang terkenal di Seoul, tempat pacarku menuntut ilmu. Selagi menunggu Ten muncul, aku pun kini disibukkan dengan memperbaiki penampilan wajahku. Aku selalu ingin tampil sempurna di mata Ten. Aku sangat mencintainya dan tentu Ten juga mencintaiku. Meskipun terdapat jarak usia diantara kami, namun kami berdua tak pernah mempersalahkan itu. Bukankah cinta tak pernah mengenal usia?

Tak lama ku dengar kaca mobil ku diketuk oleh seseorang, dengan senyum yang mengembang aku pun mulai membuka pintu mobilku lalu menghambur ke dalam pelukan namja ku itu.

“Ten-aa..”

“HyunRa-ya, aku sangat merindukan mu..” balasnya tanpa menggunakan embel-embel noona dan tentu aku sangat menyukainya.

“Apa kau meridukanku juga?” tanyanya dengan wajah yang sangat imut namun terkesan sexy. Jangan lupa penampilan Ten kini yang sangat-sangat mempesona walaupun ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

Aku pun hanya menganggukkan kepala ku, tanda setuju terhadap pertanyaannya barusan. Secara perlahan Ten pun mulai mencium pipiku lembut dan tentu hal ini membuat warna pipiku berubah menjadi lebih merona. Astaga, aku sangat sangat suka perlakuan ia yang sangat tak terduga seperti ini..

“HyunRa-ya, ayo kita pergi. Bukankah kita akan berkencan hari ini?” ajaknya yang berhasil menyadarkanku dari lamunanku sendiri.

“Eoh? Ne.”

“Astaga, mengapa kau sangat menggemaskan chagi-ya.a Aku jadi ingin menggigit bibirmu itu” balas Ten tanpa dosa.

“YAKKKK, NEO!!!”

“HAHAHAHAHA..kajja”

“Kajja”

940310-940412

“Chagi-ya, mulai bulan depan aku yang akan menyetir setiap kita akan pergi. Bolehkan?” tanyanya saat aku tengah berkonsentrasi menyetir ke tempat yang akan kami tuju.

“Bukankah kau masih belum memiliki Surat izin say, bagaimana bis-“

Ucapan ku terpotong saat ku rasakan kini tangan kanan ku tiba-tiba menghangat, ya.. dengan lembutnya Ten menggenggam sebelah tanganku lembut. Bahkan dapat ku rasakan kini Ten tengah mencium punggung tanganku.

“Aku suka aroma mu noona..” gumam Ten dengan bibir dan hidung yang masih menempel tepat di punggung tanganku.

Mendengar pernyataan lugunya itu, sontak bibir ku pun mulai menyunggingkan seulas senyum, senyum tersipu dan jangan lupa kini kedua pipiku pun telah berubah menjadi lebih merona.

“Noona, bisakah kita berhenti didepan?”

“Waeyo? Dan berhenti memanggilku noona! Kau tau kan aku membenci panggilan itu” balasku dan kini aku langsung mengahadap ke arah Ten.

“Tapi.. bukankah itu terdengar lebih sexy noona?”

“YAKKKK!! Tapi aku benci itu” ucapku seraya mengerucutkan bibirku kesal.

“Arra, arra chagi-ya. Sekarang bisakah kita berhenti di depan? Aku harus ganti baju sayang. Aku tak mungkin berkencan dengan mu selagi aku memakai seragam bukan?”

“Kenapa tak bisa?” tanyaku bingung dan tak mengerti.

“Aku benci jika nanti orang-orang menganggap kita sebagai adik-kakak, apalagi saat ini aku tengah memakai seragam. Aku ini pacar mu, bukan adikmu, kau mengerti? Jadi, ayolah hentikan mobilnya..” balasnya dengan nada suara yang sengaja ia buat-buat, terdengar lebih imut dan lucu.

“Arraseo, Nae Namchin”

“Gomawo, Nae Sarang”

“Menggelikan hahahaha”

“Tapi kau menyukainya kan?” Tanya Ten dengan mata yang sengaja ia kedipkan, -lucu.

Aku pun hanya tersenyum simpul mendengar dan melihat tingkah lucunya itu.

—–

“Jadi, kau mau berganti pakaian dimana?” Tanya ku sesaat aku berhasil menghentikan laju mobilku.

“Disini” jawabnya singkat.

“Disini?” tanyaku tak mengerti.

Ten pun hanya mengangguk dan dalam hitungan detik ia pun mulai keluar dari mobilku dan tiba-tiba membuka pintu belakang mobilku.

“Ka, kau ma-u ber-gan-ti- di sini?” tanyaku tak percaya dan langsung membulatkan mataku saat dengan santainya Ten membuka kancing seragamnya satu per satu tepat dihadapanku.

“Ne, Chagi-ya.. bisakah kau berbalik ke depan? Atau kau mau melihat aku berganti baju? Tapi aku malu..” goda Ten dengan suara yang sengaja lagi ia buat-buat.

“Nde? Eoh” Aku pun dengan sedikit kikuk memutar tubuhku untuk menghadap ke arah depan.

“Selesaikah?”

“Sabarlah noona..”

“Berhenti memanggilku noona” desisku sedikit kesal.

“Aku ini pacarmu, bukan kakak kand-“ ucapan ku terputus saat ku rasakan tangan sebelah kananku ditarik paksa dari arah belakang.

“Chagi-ya, tidakkah aku terlihat keren dengan penampilan seperti ini? tidakkah aku telihat lebih dewasa?” tanyanya dengan wajah super polosnya.

Dapat ku lihat kini, sosok Ten yang tadinya berbaju seragam telah berubah menjadi sosok pria yang bisa dibilang cukup mempesona. Berbalut kaos putih dan kemeja hitamnya yang sengaja seluruh kancingnya tak ia pasang dan jangan lupa celana jeans robeknya, yang benar-benar merubah sosok Ten yang tadinya seperti anak kecil, berubah menjadi sosok yang lebih dewasa. Ternyata aku memang tak salah dalam memilih kekasih.

“Hmm, bagaimana?”

“I like it” gumamku sangat pelan dan tak lupa kedua manik mataku yang tak pernah terlepas dari sosok tampannya.

Ten pun dengan mempesonanya langsung tersenyum, sesaat ia mendengar ucapan aku barusan.

“Kau juga terlihat cantik, noona. Selalu cantik” ucap Ten tepat di telinga kiriku.

“Chagi-ya, mulai hari ini biarkan aku yang menyetir. Okay?”

“Eoh? Mana mungkin? Kau ka-“ ucapan ku kembali terputus saat Ten dengan tiba-tiba memperlihatkan surat izin mengemudinya yang entah sejak kapan ia miliki.

“Kau? Bagaimana bis..?”

“Sudahlah noona, sekarang biarkan aku yang menyetir, okay? Dan noona lebih baik duduk disamping ku dengan tenang. Saranghae HyunRa-ya”

“Eoh? Neo?”

“Saranghae?”

“Nado Sarngahae”

Akhirnya akupun menyerah dengan keinginan Ten, dan membiarkan Ten untuk mengemudi mobilku ini. Aku pun dengan santai serta nyamannya hanya duduk disamping Ten dan memandang wajah Ten yang tengah berkonsentrasi penuh pada jalanan dihadapannya. Ia sangat mempesona. Jika orang lain yang tak tau umur Ten, mungkin mereka akan berpikir bahwa aku dan Ten adalah sepasang mahasiswa yang tengah memadu kasih. Sungguh, sempurna kkk.

—–

“Chagi-ya, bagaimana jika kita menonton bioskop hari ini?” ajak Ten saat kami berdua menginjakkan kaki kami di salah satu mall ternama di kota Seoul.

“Hmm, baiklah” balasku menyetujui usulnya itu.

Dengan perlahan Ten pun mulai menggenggam tanganku lembut dan mengkomandoi langkahku untuk melangkah menuju bioskop yang akan kami tuju. Aku sungguh sangat senang setiap kali kami melakukan skin ship yang bisa dibilang sangat biasa ini. Tangan Ten yang hangat, sungguh aku sangat terobsesi dengan kehangatan tangannya itu. Terkadang aku mengharapkan lebih dari skinship nya itu, tapi.. mengingat usia Ten yang lebih muda dariku, aku pun hanya bisa menahan keinginan bodohku ini.

Setelah kami melangkah selama 15 menit lebih, akhirnya kami pun tiba di bioskop yang kami tuju. Kami pun mulai memilah-milah film apa yang mungkin akan kami tonton hari ini, dan tetap tangan kami masih saling bertaut dan tak ada sedikitpun keinginan kami untuk melepaskannya barang sedikitpun.

“Ten-aa, kau mau menonton apa?” tanyaku setelah manik mataku menangkap sejumlah judul film yang tengah tayang hari ini.

“Entahlah, kau mau menonton apa Chagi-ya?”

“Ummm..”

“HyunRa? Kim HyunRa?” tiba-tiba indra pendengaran kami – aku dan Ten, menangkap sebuah suara yang memanggil nama ku.

Kami pun dengan kompak mulai melirik ke arah suara itu, untuk mengetahui siapa yang tadi memanggil nama ku.

“Kau HyunRa, kan?” Tanya suara itu sekali lagi, mencoba memastikan.

“Eoh, Park Jimin? Seo Hana?” balasku mencoba menebak nama dua orang itu.

“Sedang apa kau disini? Jangan bilang kau tengah berkencan?” goda Jimin diiringi senyumnya yang sangat memuakkan untukku.

“Eoh, apa ini pacarmu? Hai, Seo Hana imnida. Dan kau?” Tanya Hana seraya menjulurkan salah satu tangannya ke hadapan Ten. Dapat ku lihat kini mata Hana berbinar melihat sosok pria yang tengah bersama ku ini dan itu sungguh sangat memuakan untukku.

“Ten Imnida” balas Ten seraya membalas salaman Hana dan Jimin.

“Kau jurusan apa Ten-aa? Tingkat? Sepertinya aku tak pernah melihat wajahmu di kampus?” Tanya Hana mencoba mencari tahu seluk beluk identitas kekasihku. Apa ia tertarik dengan pacarku? Heol, kau sungguh menyebalkan Hana-ya. tak puaskah kau dengan sosok Jimin disampingmu? – batinku memaki.

“Dia-“ ucapanku terputus saat ku rasakan tangan Ten kini menggenggam tanganku dengan erat, sangat erat. Mencoba untuk menghentikan suara ku yang sebelumnya akan ku lontarkan.

“Aku masih SMA tingkat akhir, noona” potong Ten dengan suara yang super santai dan tanpa beban. Aku pun hanya bisa membelakakan mataku tak percaya saat telinga ku mendengar untaian katanya itu.

Mataku pun mulai melirik kearah dua sejoli yang kini tengah menatap kearah kami dengan wajah yang tidak percaya.

“Kau masih SMA?” Tanya Hana dengan nada suara yang sedikit ragu.

“Kau berkencan dengan anak SMA, HyunRa Sunbae?” kali ini giliran Jimin yang menanyakan hal yang sangat tak ingin aku jawab. Ditambah lagi, Jimin dengan sengajanya menekankan kata SMA di untaian pertanyaannya itu.

Aku pun hanya bisa menahan napasku dan mulai membalas genggaman Ten yang sebelumnya erat, menjadi semakin erat.

“Jadi ini alasan mu menolak Hoseok hyung? Sungguh, tragis nasib hyung ku itu. Kalah bersaing dengan seorang bocah SMA” celetuk Jimin seenaknya, entah bermaksud untuk apa.

“Hos-“

“Sudahlah, kalian berdua, selamat menikmati kencan kalian. Aku dan Ten harus segera pergi. Ayo Ten” ucapku tiba-tiba sengaja memotong pertanyaan Ten.

“Eoh, baiklah. Hana noona, Jimin Hyung, kami duluan” pamit Ten sopan malah sangat sopan seraya salah satu tangannya mengalung indah di bahu mungilku. Lalu kami berdua pun mulai meninggalkan dua sosok itu yang dapat ku tebak, kini mereka tengah memandang heran ke arah belakang tubuh kami yang sedikit demi sedikit menjauh dari pandangan mereka.

Aku sungguh sangat membenci pasangan kekasih itu, Hana-Jimin. Tunggulah pembalasanku nanti – batinku mengutuk.

—–

Disinilah kami sekarang, duduk dengan semangkuk besar es krim yang tersaji tepat dihadapan kami. Setelah kami berdua terbebas dari pasangan menyebalkan Hana-Jimin, aku dan Ten memutuskan untuk membeli es krim di seberang bioskop seraya otak kami masih berpikir untuk menonton judul film apa hari ini. Aku dan Ten memesan sebuah es krim extra large dengan berbagai toping buah yang kami suka. Hmm, it’s so yummy!!!!

“Jadi, apakah noona dan hyung yang tadi bertemu dengan kita adalah teman mu sayang?” Tanya Ten sambil menyuapi ku sesendok penuh es krim strawberry.

Tanpa ragu aku pun menerima suapan es krim nya itu diiringi sebuah senyuman yang tentu tak kalah manis dari es krim ini.

“Hmm, bisa dibilang begitu. Hana adalah teman sekelas ku dan Jimin adalah adik tingkatku” balasku setelah mulutku berhasil melelehkan es krim yang sangat enak itu.

“Lalu Hoseok?” Tanya Ten tiba-tiba dan berhasil menghentikan tanganku yang berniat untuk menyuapai Ten sesendok s krim.

“Dia-”

“Hmm” balas Ten dengan tangannya kini sengaja mengarahkan tanganku –yang memegang sendok ke arah mulut manisnya.

“Hmm, Begini lebih enak” celetuknya yang berhasil membuat pipiku berubah merona.

“Jadi dia siapa? Mantan mu?”

“Aniyo, dia bukan mantanku. Dia hanya teman sekelas ku tidak lebih”

“Benarkah?” balas Ten penuh curiga.

Aku pun hanya menganggukkan kepalaku menyetujui pertanyaannya itu. Melihat tingkahku yang menggemaskan itu, Ten pun hanya menampilkan senyum mempesonanya seraya tangannya kini mengelus pucuk kepalaku sayang.

Namun momen-momen romantis kami ini tidaklah bertahan lama, entah siapa dan dari mana asalnya. Sayup-sayup kami mendengar sebuah suara yang kini tengah memanggil nama ku –lagi? Bahkan bukan hanya satu suara tapi, empat suara berbeda mulai memasuki gendang telinga kami tanpa izin.

“Kim HyunRa”

“YAKK, Kim HyunRa”

“HyunRa-ya!”

“YAAAKK, kalian berdua”

Secara perlahan pemilik suara-suara itu pun mulai menghampiri kami dan kini pemilik suara yang ternyata 4 orang temanku ini, tengah duduk dan senyum-senyum tidak jelas dihadapan aku dan Ten. Ten pun hanya bisa memandang teman-teman ku itu bingung dan sesekali ia pun melirik ku, mencoba untuk meminta penjelasan – siapa sosok sosok dihadapan kami ini.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya ku memecah keheningan diantara kami berenam. Dapat ku lihat kini empat sahabatku itu tengah duduk dihadapan aku dan Ten, entah dari mana mereka mendapatkan kursi tambahan yang kini tengah mereka duduki itu.

“Apa kau yang bernama Ten? Hai, kenalkan aku Lee HyuRa dan dia namjachingu ku Sehun. Kau bisa memanggil kami hyung dan noona” ucap Lee Hyura pada Ten dan sengaja mengabaikan pertanyaan yang ku utarakan sebelumnya.

“Nde?”

“Dan aku Kim Jongin, aku sahabat kecil HyunRa. Dan dia pacarku Kim HyuRa. Salam kenal, Ten?” kali ini giliran Jongin, sahabatku yang angkat bicara.

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan disini?” Tanya ku tak ramah seraya melayangkan sebuah death glare ke arah sahabat-sahabatku ini.

“Keep calm babe, kami hanya ingin berkenalan dengan pacar mu ini, iya kan Ten?” bahkan Sehun yang terkenal cuek dan dingin pun kini angkat bicara. Menyebalkan!

“Sehun Hyung, Jongin Hyung, HyuRa noona, Hyura Noona. Kenalkan aku Ten dan aku juga adalah pacar HyunRa. Salam kenal semuanya” ucap Ten dengan nada suara yang terdengar dewasa namun tetap lucu dalam waktu yang bersamaan. Aku hanya bisa memandang Ten kagum dan bahkan aku pun tak mengedipkan mataku barang sedikitpun. Ini terlalu berharga untuk aku abaikan.

“Jadi apa yang kalian lakukan disini?” pertanyaan yang sebelumnya aku ajukan dan tak mendapat respon dari mereka, kini diucap ulang oleh sahabatku yang polos, Hyura.

“Kami berniat untuk menonton noona. Tapi kami masih bingung akan menonton apa. Ohya, apa noona mau es krim?” tawar Ten pada Hyura lembut, yang sontak membuatku kesal atau cemburu lebih tepatnya. Tanpa aku sadari kini raut muka ku mulai berubah, dan pandangan dingin dan membunuhlah yang kini aku berikan pada Ten dan Lee Hyura.

“Bagaimana jika aku dan Jongin yang memilih film apa yang akan kita nonton bersama? Bukankah itu terdengar lebih seru dan menarik dibandingkan kalian menonton berdua? Bagaimana?” tawar Sehun dengan sebuah smirk misterius yang ia ukir di wajah mulusnya itu.

“Aku setuju, lebih baik kita menonton bersama saja agar lebih aman” ungkap HyuRa, sang kekasih Sehun mencoba meyakinkan seluruh orang di meja bundar ini.

“Aku dan HyuRa juga setuju, bagaimana menurutmu Ten?”

“Emm, jika HyunRa mau, aku juga mau hyungdeul, noonadeul”

“Baiklah, ayo kita beli tiketnya sehunaa” Seru Jongin dengan penuh semangat 45.

“Yakk, aku bahkan belum mengungkapkan pendapatku” pekik ku kesal dan tak terima, karena dua tiang listrik itu telah mengambil keputusan tanpa mendengar pendapatku terlebih dahulu.

“Empat berbanding satu, kau kalah telak nona Kim” balas Jongin dengan nada yang dibuat-buat.

“Kau menyebalkan, Kim Jongin”

“Terima kasih untuk pujian mu itu nona Kim” balasnya santai lalu ia dan Sehun pun melanggeng pergi untuk membeli tiket dan meninggalkan aku yang tengah dibakar amarah sendiri. –tidak maksudku bersama 3 orang lain disampingku yang kini tengah asik mengobrol ria, atau lebih tepatnya 2 sahabatku itu tengah mengintrogasi Ten dan secara otomatis mengabaikan aku yang notabene nya adalah sahabat mereka sendiri.

“Kalian sungguh menyebalkan..” desisku pelan bahkan saking pelannya, tidak ada seorang pun yang mendengar desisan ku ini.


10 minutes later..

“Ini tiketnya..” seru Sehun seraya tangannya sibuk membagikan sebuah tiket yang telah berhasil mereka – Jongin dan Sehun beli.

Mataku membulat sempurna saat indra penglihatan ku membaca serangkaian kata di atas tiket bioskop itu. Fifty Shades of Grey? Apa mereka gila?

“Akhirnya kita menonton film ini juga Chagi-ya, gomawo. Aku sungguh sangat penasaran dengan ceritanya” ungkap penuh bahagia Hyura kepada kekasihnya Jongin. Dan Jongin pun hanya membalas rasa ucapan terimakasihnya itu dengan sebuah senyuman yang manis namun bagiku senyuman itu sungguh sangat menyeballkan.

“Ini film apa Sehunaa?” Tanya polos Hyura pada kekasihnya Sehun yang sebelumnya terkenal akan cap playboy kelas kakapnya itu.

“Itu film yang menarik sayang, kau pasti akan menyukainya” bohong Sehun yang sangat sempurna. Aku pun hanya bisa memutar mataku malas setelah mendengar kebohongan Sehun yang sangat memuakan itu.

“Chagi-ya, kau tak apa?” Tanya Ten khawatir setelah melihat raut muka ku yang terlihat sangat tak nyaman ini.

Bagaimana tak nyaman? Aku ini tak sepolos Lee Hyura, sang kekasih Sehun yang tak tahu, genre film apa yang sekitar 10 menit lagi ini akan kami tonton. Fifty Shades of Grey, Film yang penuh akan unsur dewasa dan kini aku harus menontonnya dengan pacarku sendiri? Bukankah itu sedikit berlebihan. Jangan lupa umur pacarku ini yang bisa dibilang baru menginjak dewasa, apakah ia pantas mendapat tontonan sedewasa ini? Sehun dan Jongin benar-benar bodoh, apa mereka sengaja meminta kami untuk menonton film ini. Argghhh.. Sehun, Jongin.. matilah kalian berdua..

“Chagi-ya? Chagi-ya?”

“Eoh, Ten-aa? Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing barusan, dan sekarang aku baik-baik saja”

“Hmm, apa perlu kita pergi ke dokter? Atau pulang?”

“Tidak usah, aku sudah lebih baik kok”

“Kalian berdua, ayo masuk. Sebentar lagi film nya akan dimulai” seru Jongin yang kini tengah berhadapan dengan petugas tiket dipintu masuk teater 3.

Aku pun hanya melirik Jongin dengan tatapan – Apa kau serius? Bagaimana dengan Ten?

Seolah mengerti dengan apa yang aku maksud, Jongin pun dengan santainya berteriak
“Tak apa nona Kim, semuanya telah aku urus. Sekarang, masuklah!!”

Setelah itu sosok Jongin dan Hyura juga Sehun-Hyura pun menghilang dari arah pandangan kami.

“Ayo baby, kita masuk” ajak Ten seraya menarik tanganku lembut.

“Apa kau serius mau menonton film ini?” tanyaku sedikit ragu.

“Aku pernah menonton film ini sebelumnya bersama Jaehyun Hyung dan Taeyong Hyung, jadi masuklah”

“Kau? Pernah menonton film ini?” Tanyaku tak percaya, sangat tak percaya.

Ten pun hanya mengangguk, menyetujui pertanyaanku itu dan secara perlahan membawa ku untuk masuk ke dalam teater 3 itu.

“Tenanglah noona, aku tak akan bebuat macam-macam padamu. Aku berjanji” bisik Ten tepat diujung teliinga kanan ku, saat kami berdua mulai memasuki teater. Dan perlakuan Ten yang tidak biasa ini berhasil membuat sebagian bulu kuduk ditelinga ku berdiri tanpa alasan.

-Astaga, berhentilah membuat jantungku berdegup seperti ini Ten- batinku berteriak.

“Ten-aa, kau serius pernah menonton film ini sebelumnya?” tanyaku setelah hampir seperempat film yang kami tonton ini tayang.

Sungguh aku tak percaya dengan apa yang tengah aku tonton ini, film ini. Tidakkah film ini terlalu berlebihan untuk ditonton oleh kami.

“Ten-aa?” panggilku pada Ten sekali lagi, karena sampai detik ini ia masih belum juga menjawab pertanyaanku sebelumnya.

Ku alihkan pandangan ku dari layar lebar itu, ke arah Ten yang dapat ku lihat kini ia tengah menonton film ini dengan penuh perhatian dan fokus yang tinggi. Mukanya yang serius sungguh sangat menarik perhatianku untuk tetap memperhatikannya, mengabaikan berbagai adegan film yang mungkin bagi orang lebih menarik. Bibirnya yang tiba-tiba terbuka sedikit membuat imajinasi liar ku muncul seketika. Mungkinkah hari ini kami akan melakukan first kiss? Mungkinkah? – batinku berharap.

“Chagi-ya, apa kau tadi bertanya sesuatu?” Tanya Ten yang berhasil membawa ku kembali dari imajinasi liar ku sebelumnya.

“Eoh? Hmm, aniyo. Aku hanya bertanya apa kau memang pernah menonton ini sebelumnya? Tidakkah menurutmu film ini sedikit vulgar untuk kita tonton?” bisikku tepat di telinga Ten, bersamaan dengan scene penuh akan desahan muncul di film yang tengah kami tonton.

Melihat adegan yang menurutku ‘terlalu itu’ aku pun dengan segera menyembunyikan kepalaku di bahu tegap milik Ten. Hangat, itulah yang aku rasakan saat kepalaku menyentuh bahu Ten. Beberapa detik kemudian dapat ku rasakan sebuah tangan tengah mengelus ujung kepala ku lembut dan hangat.

“Chagi-ya? kau tak apa?”

Aku pun hanya mengangguk namun dengan tetap menyembunyikan arah pandangku dari layar lebar yang terpatri indah dihadapan kami. Dengan lembut dapat ku rasakan sebuah telapak tangan tengah menggenggam tanganku hangat dan sesekali tangan itu meremas tanganku gemas.

Aku pun kembali mengangkat arah pandangku dari bersembunyi dibalik bahu Ten menjadi menatap wajah Ten. Tanpa aku sangka Ten pun mulai menghadap ke arahku, dan dengan kesadaran yang penuh dapat ku rasakan kini sebuh objek kenyal tengah mengecup bibirku singkat. Bibir? Catat itu. Biasanya kami hanya berciuman sebatas pipi dan kening, tapi sekarang bibir? Ohmygod. Apa aku bermimpi?

Sejenak aku hanya bisa terdiam setelah mendapat perlakuan tak biasanya itu. Pipiku tentu telah berubah menjadi merah sempurna, tapi untunglah bioskop ini gelap sehingga tak ada seorang pun yang menyadari perubahan warna dari wajahku ini.

“Apa kau menyukainya?” Tanya Ten dengan tangannya tetap menggenggam tanganku erat.

“Ne” balasku penuh antusias.

“Tak bisakah kita mengulangnya lagi? Itu terlalu singkat” sambungku dengan nada suara yang penuh akan kekecewaan.

Ten pun segera melirik ke hadapanku dengan mata yang sangat terkejut, mungkin ia tak menyangka bila kata-kata seperti itu dapat terucap juga dari bibirku sendiri.

“Kau mau mengulanginya lagi? Baiklah, tapi tidak disini”

“Dimana?”

“Rahasia”

“Kau menyebalkan”

“Tapi kau mencintaiku, kan?”

“Sangat”

“Aku juga mencintaimu, Kim HyunRa”

“Aku lebih mencintaimu Ten Chichippap— Entahlah, nama mu terlalu sulit“ balasku setelah sebelumnya mencoba untuk mengutarakan nama lengkap Ten yang sangat rumit itu. Ten pun hanya tersenyum melihat tingkahku yang sangat menggemaskan saat mencoba menyebut nama lengkapnya.

“Ten Chittaphon Leechaiyapornkul”

“Itu dia maksud ku, tapi itu telalu sulit untuk ku ucap” ucapku manja seraya kepalaku ini aku simpan diatas bahu Ten.

“Kau sangat lucu dan sangat menggemaskan” balasnya dengan tangannya kini tengah memeluk pinggangku erat dan posesif.

“Kau lebih lucu”

“Aku mencintaimu HyunRa”

“Aku lebih mencintaimu Ten”

“Jangan tinggalkan aku”

“Jangan pernah berpikir untuk pergi dari hadapanku”

“Kau alasan ku hidup”

“Kau.. kau.. kau sungguh gombal Ten-aa” balasku yang berhasil merusak momen romantis diantara kami berdua.

“Kau merusak momen romantis kita Kim HyunRa”

“Karena kau terdengar sangat menggelikan Ten. Jujur padaku, siapa yang telah mengajari mu bergombal seperti ini? Jaehyun? Yuta? Johny? Hansol? Atau Taeyong?”

“Itu rahasia, sayang..” jawab Ten dan tanpa babibu ia pun mulai mengecup keningku singkat.

“Kau menyebalkan” balasku dan mataku kembali menatap layar lebar yang berada dihadapan kami.

“Mwo? End? Bagaimana bisa?” ucapku tak percaya saat mataku menangkap berbagai kata-kata yang silih berganti muncul dilayar.

“Ten-aa” sambungku lagi.

“Sudahlah ayo kita pulang dan lanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda tadi” balasnya santai lalu menyeret tanganku ini untuk keluar dari ruang teater.

“Kegiatan? Kegiatan apa?” tanyaku tak mengerti.

“Sudahlah, ikuti aku. Aku jamin noona tak akan menyesal”

“Benarkah?”

“Aku mencintaimu, Ten” sambungku dengan tanganku yang kini telah melingkar sempurna di lengan Ten.

“Aku jauh mencintaimu, HyunRa noona” balasnya dengan penuh penekanan pada kata ‘noona’ yang aku benci itu.

“Yakk, berhenti memanggilku noona. Aku tak suka”

“Tapi aku menyukainya”

“Kau menyebalkan”

“Benarkah? Bukankah sebelumnya kau bilang kau mencintaiku?”

“Tadi aku berbohong”

“Baiklah, tapi aku mencintaimu.. sangat-sangat mencintaimu”

“Ayo kita pulang chagi-ya”

“Baiklah, kau yang menyetir?”

“Tentu tuan puteri”

“Kajja”

“Kajja”

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s