(FanFict) Please Forget Me

Please Forget Me

Author : aniespur
Cast : Lee HyuRa (OC) and ‘Someone’ (find it by yourself)
Genre : Romance, Angst

Happy Reading ^^
@oohsehun is mine~~

terkadang kita tak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan di dunia ini. seperti diriku.. meskipun aku selalu mengatakan bahwa aku tak menyukainya bahkan tak menginginkannya.. namun bayangan-bayangan akan dirinya entah mengapa selalu muncul disela-sela tidurku. apakah mungkin aku menyukainya? sejak kapan? – sungguh aku sangat ingin mendapat jawaban akan pertanyaan konyolku ini.

3 tahun sudah kami saling mengenal, mungkin kalian pikir selama 3 tahun itu aku berteman dengannya, tapi tidak. tebakan kalian salah. selama 3 tahun ini yang kami lakukan hanyalah bertengkar, bertengkar dan bertengkar. mempunyai seorang tetangga yang bawel dan berisik sepertinya adalah salah satu hal yang sangat aku sesali di hidup ini. tiada hari yang kami lewati tanpa adanya adu mulut dan adu argumen, bahkan kekerasan fisik pun kadang aku berikan padanya – saking kesalnya aku pada sosok itu. tapi, semakin bertambahnya usia kami dan semakin dewasanya kami, entah mengapa, ritual adu mulut kami pun lambat laun mulai berkurang dan bahkan kami pun tak pernah bertemu satu sama lain sesering 3 tahun yang lalu. kesibukan dia lah yang membuat ritual ini hilang bagai ditelan bumi. terkadang aku merasa beruntung karena aku tak harus beradu argumen bahkan bertemu dengan pria cerewet itu. namun, tanpa aku sadari.. hati ku ini merasakan ada sesuatu yang hilang saat aku tak bertemu dengannya. mungkinkah aku merindukannya? bagaimana bisa? bukankah aku begitu membencinya?

suatu hari tanpa sengaja aku melihat namja itu tengah berjalan dengan seorang gadis yang entahlah aku pun tak mengenalnya, melihatnya pun aku baru pertama kali. dengan leluasa nya sang yeoja menggandeng lembut tangan namja menyebalkan itu. entah mengapa, aku tak sanggup melihat pemandangan memuakan itu. ku llihat namja itu melirik sekilas ke arahku. Aku pun hanya bisa memutar bola mataku jengah saat manik mata ku tak sengaja bertemu dengan dengan manik matanya dan dengan segera aku pun berlalu dari pemandangan memuakan itu.

kau cemburu padanya – itulah pernyataan aneh yang selalu dilontarkan oleh sahabat ku, JungAh, setiap kali aku bercerita tentang tetanggaku yang menyebalkan itu. cemburu? astaga.. itu tidak mungkin. Dan juga tak akan mungkin. Seumur hidupku ini, tak pernah ada kata cemburu muncul didalam hidup ku. Pernyataan JungAh benar-benar konyol, sepertinya aku telah salah bercerita.

Hari ini, kembali, aku melihat sosok tetangga ku itu tengah menggandeng sebuah tangan dengan manja dan posesif. Tapi tunggu, bukankah wajah gadis itu berbeda dari gadis yang kemarin aku lihat? – apa gadis itu adalah pacarnya? Lalu gadis yang kemarin ku lihat itu siapa? Berbagai pertanyaan pun kini muncul silih berganti di otak ku yang berkapasitas terbatas ini. Tanpa ku sadari, entah sejak kapan manik mata kami bertemu dan kami pun hanya saling berdiam dan saling menatap satu sama lain dari kejauhan. Namun itu tak bertahan lama, tak lama kesadaran ku pun kembali, dan dalam hitungan detik, kembali, aku yang memutuskan kontak mata diantara kami.

Hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua orang akan pergi bersenang-senang dengan orang yang mereka cintai. Tapi, apa yang aku lakukan di hari minggu yang bisa dibilang cukup cerah ini? Yang dapat aku lakukan hari ini hanyalah berdiam diri dirumah ditemani oleh notebook putih kesayanganku. Orang tua ku? Jangan tanyakan kemana mereka. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis-bisnis nya, sampai-sampai mereka melupakan bahwa mereka memiliki seorang anak yang perlu untuk diperhatikan. Sejenak ku lihat jendela kamar ku, jendela yang dapat menghubungkan kamarku dengan rumah nya. Rumah yang selalu terlihat sepi dari luar namun hangat saat kita berada didalamnya. Berbeda dengan rumahku yang baik dari dalam ataupun dari luar sama-sama terasa sepi. Rumah dengan 3 lantai ini, hanya ditinggali oleh aku dan beberapa Ahjuma dan Ahjushi yang bekerja disini. Apakah aku merasa kesepian? Tentu.

Dari arah jendela ku ini, aku mulai melihat sosok itu keluar dari rumahnya sambil menjinjing sepeda sportnya. Seperti biasa dia akan berolahraga di pagi buta ini – pikirku sambil tersenyum. Tersenyum? Tunggu. Apa aku baru saja tersenyum pada sosok itu? Benarkah? Namun, senyumku itu tak bertahan lama. Senyum ini langsung menghilang sesaat manik mataku menangkap sosok lain dibelakangnya, sosok yang kemarin kulihat tangannya digandeng mesra oleh tetanggaku itu. Mereka tinggal bersama? Tunggu. Hubungan macam apa yang membuat mereka bisa tinggal bersama?? Tanpa ku sadari, setitik air mata pun mulai menetes dari kedua mata ku. Aku semakin membencimu – desisku tak percaya.

Hari selasa, hari tersibukku di kampus. Hari dimana aku harus meghabiskan seluruh waktuku di kampus tanpa terkecuali. Menjadi seorang mahasisiwi Akuntansi semester 6 bukanlah hal yang mudah. Terlalu banyak tekanan – melalui tugas- yang datang silih berganti. Ku langkahkan kaki ku ke dalam kampus tercintaku ini. Sial. Mengapa hari ini juga aku harus bertemu dengannya. Bukankah kampus ku ini besar, tapi mengapa aku harus selalu bertemu dengannya. Apa ini adalah takdir kami? Omong kosong. Aku pun tetap melangkahkan kakiku untuk melewati sosok tinggi yang sekarang tengah bersandar di loker miliknya. Tapi tunggu, entah mengapa tiba-tiba ku rasakan tubuhku ini ditahan oleh seseorang – lebih tepatnya tangan kiri ku lah yang ditahan oleh seseorang. Aku pun hanya bisa memandang tangan lain yang menahan tanganku itu. Aku tau siapa pemilik tangan ini, tangan yang tak asing lagi dipikiranku.

“Lepaskan” ucapku datar dan tanpa emosi sedikitpun. Jujur, saat ini aku tidak dalam kondisi baik untuk berdebat.

“Kita harus berbicara Lee HyuRa” ucapnya penuh penekanan dan penuh akan kesan perintah.

Akhirnya ku putar badanku ini, untuk melihat sosok menyebalkan itu.

“Sepertinya tak ada yang perlu kita bicarakan Chanyeol-ssi. Dan juga lepaskan tanganmu” ucapku dengan penekanan penuh saat menyebut namanya. Yaa.. nama tetanggaku yang menyebalkan ini adalah ChanYeol, Park ChanYeol. Sosok namja yang memiliki tinggi diatas rata-rata dan pandangan mata yang terlalu sulit aku artikan.

“Mengapa kau menjauhiku?” tanyanya padaku dan tetap menahan tanganku erat. Aku pun hanya memandangnya heran. Tunggu? Dia bilang aku menjauhinya? Bukankah dalam kenyataan, dia yang menjauhiku.

“Aktingmu sungguh baik ChanYeol-ssi” ucapku sarkatis dan mencoba untuk melepaskan pegangannya. Tapi gagal.

“Maksudmu?” tanyanya heran dan kini tangannya mulai bealih dari menahan tanganku menjadi menahan kedua bahuku.

“Kau bisa pikirkan sendiri, tuan Park” ucapku putus asa.

Beberapa menit kami berdua pun terdiam dan tak ada sebuah kata pun yang terucap dari mulut kami berdua.

“Mengapa kau tak menjawab telepon dan membalas pesanku?” tanyanya yang berhasil memecahkan keheningan diantara kami berdua.

“Siapa gadis-gadis itu?” tanyaku tak sadar dan menghiraukan pertanyaannya.

“Gadis? Gadis yang mana maksudmu? Aku tak pernah bertemu dengan gadis lain.. selain…” jawabnya menggantung dan itu tentu membuatku kesal.

“Semakin hari, akting mu semakin meningkat ChanYeol-ssi. Mengapa kau tak menjadi aktor saja” sindirku seraya mengalihkan mataku agar tak menatapnya.

“Hyura-ssi, maksudmu apa? Gadis? Gadis yang mana. Tunggu. Jangan bilang gadis yang tangannya ku gandeng saat itu? Mereka itu adalah sepupu-sepupu ku. Jangan bilang kau cemburu?” tanyanya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.

Sepupu? Pikirku. Benarkah. Ternyata dia memang pembohong sejati.

“Yak.. apa yang kau pikirkan? Apa kau masih tak percaya bahwa dua gadis itu adalah sepupu ku?”

Darimana dia tau kalo aku tak mempercayainya? Aku pun mulai menatapnya tak suka. “Lepaskan!”

“Tidak, sampai kau menjawab pertanyaanku. Mengapa kau tak mengangkat telepon dan membalas pesanku?”

“Lepaskan aku Park ChanYeol” ucapku semakin putus asa. Namun hal itu sia-sia, tak ada niatan sedikit pun dari sosok ini untuk melepas tangannya dari bahuku.

“Kapan kau akan menjawab pertanyaan ku dulu? Kapan kau akan menjawabnya?” tanyanya sedikit emosi.

Aku pun hanya menatapnya putus asa. Pertanyaannya yang dulu?

“HyuRa-ssi, berhenti berpura-pura tak tahu. Aku menyukaimu. Dan sekarang jawablah pertanyaanku, apa kau mau berkencan denganku?” ucap Chanyeol penuh kepastian.

“Menyukai? Kencan? Sejak kapan?” tanyaku ulang bak orang bodoh.

“Apa kepala mu terbentur sesuatu? Mengapa kau tak ingat saat itu?” Tanya chanyeol khawatir seraya menyentuh kepala ku lembut.

Aku pun hanya memandanganya dengan pandangan yang penuh akan kebingungan.

“Kau mungkin salah orang, Chanyeol-ssi”

“Omong Kosong. Aku tak mungkin salah orang saat mengungkapkan perasaanku”

“tapi dalam kenyataannya, kau memang salah orang. Aku tak pernah merasa mendapat ungkapan cinta dari mu. Lepaskan. Aku ada kelas sekarang” ucapku acuh dan mulai meninggalkan sosok tinggi menjulang itu.

“HyuRa-ssi”

“Lee HyuRa” teriak ChanYeol tak percaya dan terdengar putus asa.

Namun, aku tak sedikitpun menghiraukan panggilannya itu. Dengan langkah pasti, aku pun mulai meninggalkan dia dan perasaan ku ini.

Maafkan aku.. – ucapku dalam hati

Maafkan aku ChanYeol-ssi
Maafkan aku, mungkin inilah yang terbaik untuk kita berdua
Dan terimakasih untuk perasaan mu baik dulu dan sekarang.
Aku juga menyukaimu, ChanYeol-ssi
Namun sayang kita tak bisa bersama, sampai kapanpun..
Bencilah aku sebisa mu dan lupakanlah aku sebisa mu
Selamat tinggal, tetangga menyebalkanku..
Semoga kau berbahagia dan lupakanlah aku..

Lee HyuRa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s