(Fanfict) Fireworks

Fireworks

Cast :
Yook SungJae (SungJae BTOB)
Kim NamJoo (NamJoo A-Pink)
Other Cast

Genre : Friendship, Romance

Author : LeeHyuRa (@aniespur)
(Fanfict) Fireworks

940310-940412

^^

Entah kenapa minggu-minggu ini otak aku lagi seneng banget dapet inspirasi buat bikin FF atau postingan lainnya -.- Ditambah juga jadwal aku yang tengah dalam masa liburan, sebelum bulan depan bakalan sibuk sama KKN. Jadi aja setiap hari, ada aja bahan tulisan yang ujung-ujungnya aku post di blog ini. Buat yang suka mampir ke blog aku, jangan bosen-bosen ya liat postingan baru aku minggu-minggu ini kkk.

Cerita ini terinspirasi oleh lagu I KNOW I KNOW (DAVID OH feat. BOMI A-PINK), ditambah tadi pagi aku liat postingan update Video di IG Sehun dan Baekhyun oppa, Fireworks? I like it. Aku dari dulu punya satu harapan yang sampai sekarang masih belum bisa terwujud, dimana aku berharap bahwa suatu hari nanti aku bisa melihat kembang api di atas bukit bersama someone yang aku sayang. Hahaha dan karena lagu, video, dan harapan aku ini, akhirnya lahirlah cerita aneh ini kkk.

Alasan kenapa aku piih cast nya SungJae-NamJoo? Karena aku lagi suka-suka nya sama sosok Gong TaeKwang di drama SCHOOL 2015, dan kenapa NamJoo? Sejujurnya, dari dulu aku suka sama couple 95line ini, ditambah lagi baru-baru ini mereka duet nyanyi bareng kan? Dan MV nya cute banget ^^ Walaupun, aku sempet ngerasa shock juga sih pas denger SungJae ikut WGM sama Joy Red Velvet, ohmygod!! Gimana nasib NamJoo.. aku tak sanggup membayangkannya..
Haruskah Namjoo sama Onew oppa? Atau sama Namjoon BTS? hehehe
Padahal lucu loh liat interaksi SungJae-NamJoo yang sangat-sangat natural.. /.\
Okay, kenapa aku jadi banyak curhat gini? Hehehe mian~~

Fireworks

940310-940412

Do You Know?
What other Say?
They say boys and girls can’t be friends
That’s so weird
Because then what are we?

NamJoo Pov.

Ku langkahkan kedua kaki ku ini menuju ruang makan yang berada di lantai bawah rumahku, sejenak tangan mungilku ini sibuk merapihkan poni rambutku dan seragam sekolah ku yang terlihat sedikit berantakan. Saat ku sampai di ruang makan, dapat ku lihat appa, eomma dan eonni ku – Taeyeon eonnitengah sibuk menikmati sarapan mereka masing-masing.

“Good morning” seruku penuh semangat seraya mencium pipi seluruh anggota keluarga ku satu per satu tanpa terkecuali.

Dapat ku lihat eomma dan appa kini tengah tersenyum geli melihat tingkah ku yang childish ini, dan eonni ku? Dia hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya tak mengerti.

Setelah selesai dengan rutinitasku – mencium seluruh anggota keluarga, aku pun dengan segera pergi menuju kursi ku dan mulai menikmati sarapan pagi ini – sepotong sandwich dan segelas susu strawberry favoritku.

Belum sempat ku habiskan sarapanku ini, sayup-sayup indra pendengaranku menangkap sebuah suara yang tak asing lagi untuk ku.

“Kim NamJoo, ppali kita berangkat, kau tak mau terlambat lagi kan?”

Aku pun langsung mendengus kesal sesaat suara itu akhirnya berhenti terdengar. Dengan sandwichyang masih berada di ujung mulutku, aku pun segera berpamitan kepada kedua orang tua ku dan juga eonni ku, dan segera melangkah menuju pintu depan. Menuju sosok yang selalu berhasil menghancurkan acara sarapanku.

“YAK, YOOK SUNGJAE.. haruskah kau berteriak seperti itu di pagi buta ini hah?” ucapku sedikit tak jelas, karena mulutku kini tengah penuh dengan potongan sandwich.

“Aihh, kau itu yeoja macam apa hah? Habiskan dulu makananmu lalu bicara. Dasar yeojajadi-jadian”

Belum sempat aku mengutarakan protesku yang lain, sosok menyebalkan di depanku ini telah berhasil meraih tanganku dan mulai menyeretnya secara paksa. Catat itu, secara paksa. Menyeret. Aku pun, dengan sementara mulai mengikuti tindakan gilanya itu. Namun tak lama, setelah aku berhasil menelan seluruh sandwich yang tadi ku makan, aku pun mulai melepaskan pegangannya lalu memukul kepalanya kesal.

“YAAKK, apa yang kau lakukan hah? Menyeret ku seperti seekor anjing!” ucapku tak terima.

“YAKK, harusnya kau berterimakasih padaku, berkat aku yang menyeretmu seperti ini, hari ini kau tak terlambat lagi masuk kelas” balasnya tak mau kalah.

“Mwo? Terima kasih? Dalam mimpimu Yook SungJae!” balasku lagi dan mulai melangkahkan kaki ku meninggalkan ia yang tengah menggerutu kesal di belakang.

“YAKK, dasar yeoja jadi-jadian”

Ya, seperti itulah hari-hari yang selalu aku lewati selama ini. Yook SungJae adalah tetangga ku sejak kecil dan ia adalah sahabat ku sekaligus musuh ku, entahlah aku juga bingung setiap kali harus menjelaskan apa hubungan ku dengan namja itu. Yang pasti kami telah bersama sejak kami terlahir ke dunia ini, meskipun aku lahir sebulan lebih awal darinya. Tapi, kami melewati masa kanak-kanak, masa TK, masa SD, masa SMP bahkan masa SMA – sekarang bersama, dan anehnya kami selalu masuk kedalam sekolah yang sama bahkan kelas yang sama sejak kami TK hingga SMA kini. Apa aku bosan melihat wajahnya tidak hanya di sekolah bahkan dirumah? Tentu, aku bosan bahkan terkadang muak. Tapi, setelah waktu berlalu aku pun mulai terbiasa dengan kehadiran namja menyebalkan ini. apa ini namanya cinta? Bukan, aku dan Sungjae hanyalah seorang teman tak lebih.

I know too
I’m not trying to test you
Why don’t you know how worried I am?
You’re a long-time friend, what to do?
I don’t know

@Class

“Pagi, NamJoo-ya. Heol, ada apa dengan wajahmu? Ini masih pagi Joo-ya, jadi tersenyumlah” ucap sahabatku, Jisoo. Kim Jisoo.

“Apa Sungjae lagi kah?” Tanya temanku yang lain, Minwoo.

Aku pun hanya menjawab pertanyaan mereka dengan sebuah anggukan.

“Apa kalian bertengkar? Atau kalian putus?” Tanya Minwoo lagi.

“YAAK, No MinWoo sudah berapa kali ku katakan, aku dan Sungjae bukanlah sepasang kekasih, kami hanyalah teman, tidak lebih”

“Tapi, tak ada yang namanya teman antara seorang yeojadan namja, pasti ada sesuatu perasaan disana” ungkap Jisoo tiba-tiba.

Aku pun hanya melirik ke arah temanku ini datar, benarkah seorang yeoja dan namja tak bisa berteman? Mustahil. Sekali lagi, aku mencoba untuk menutupi perasaanku yang entahlah aneh ini.
Ingatlah Sungjae hanya teman masa kecilmu, tidak lebih!

“Terserah kalian saja, aku lelah”

It’s really not easy to hide this
You’re already written in my heart

@Canteen

“Tidak kah kau dengar, pagi tadi ditengah lapangan Seolhyun mengungkapkan cintanya pada SungJae?”

“Mwo? Kau serius? Apa SungJae menerimanya?”

Sayup-sayup ku dengar sekumpulan gadis yang sedang asik bergosip, saat aku mengantri untuk mengambil makan siang ku. Membosankan, Tapi tunggu SungJae? Apa maksud mereka Yook Sungjae? Kata-kata sekumpulan gadis itu pun, kini telah berkecamuk tak menentu di dalam pikiran ku.

Setelah mengantri cukup panjang akhirnya aku berhasil mendapat jatah makan siangku. Dengan segera aku pun mulai melangkahkan kakiku ini menuju meja tempat Jisoo, Minwoo dan juga.. Sungjae duduk.

“Jadi kau menolak Seolhyun, Sungjae-ya?” Tanya Jisoo tak percaya.

“Huahh, kau benar-benar namja jahat yang pernah aku kenal Sungjae-ya. Setelah sebelumnya Hayoung, Hayi, Naeun sunbae dan Joy. Kini giliran Seolhyun yang kau tolak? Huahh, kau benar-benar namjaluar biasa” ucap Minwoo, entah berniat memuji atau menyindir.

Aku pun hanya menatap, makanan di depan ku ini datar. Tak ada sedikit pun niatan ku untuk memakan makanan ini, setelah sebelumnya ku dengar kejadian pengakuan itu. Setelah berhasil membuang napasku lega, aku pun mulai mengangkat kepalaku yang sejak tadi menunduk, memandangi makanan tak berdosa ini. Tapi ternyata keputusan ku salah, manik mataku langsung bertemu dengan manik mata Sungaje sesaat aku mengangkat kepalaku. Kami terdiam cukup lama dan masih tetap saling memandang satu sama lain. Sebelum akhirnya, ku kembalikan lagi logika dan akal sehat ku.

“Mwo?”

“Kau tak makan?” tanyanya penasaran.

“Aniyo, ak..”

Belum sempat ku selesaikan ucapanku, kini ku rasakan sebuah sendok beserta isinya tengah masuk kedalam mulut ku tanpa permisi. Kalian tau siapa pelakunya? Ya, dia Sungjae. Dengan seenaknya dia menyuapi ku satu sendok penuh akan nasi dan lauk. Tak tahukah ia perhatiaan yang ia berikan ini selalu berhasil membuat kerja otak dan jantungku berhenti.

“Kau harus makan, apapun yang terjadi. Jangan berani berani untuk berdiet” ucapnya dengan tampang yang sangat serius.

Dengan raut wajah kesal dan terpaksa aku pun mulai memakan makanan itu seraya memberikan tatapan tajam padanya.

“Aigo.. pasangan ini benar-benar romantis, iya kan chagi-ya?” celetuk MInwoo saat melihat aksi Sungjae yang menyuapi ku secara paksa.

“Yaa, kenapa kalian tak jadian saja, seperti kami. Iya kan Minwoo-ya?” kali ini giliran Jisoo, sang kekasih Minwoo yang mulai mengeluarkan suaranya.

Aku dan Sungjae pun hanya memandang dua pasang sejoli itu kesal, Jadian? Dengan dia? Mungkinkah? Aniyo, maksudku bolehkah?

Sejenak ku melirik SungJae yang kini tengah menundukkan kepalanya seraya tangannya tengah sibuk mengaduk-ngaduk Sup makan siangnya. Tapi, tunggu.. kenapa ia tersenyum? Mungkinkah aku punya kesempatan? Mungkinkah hal ini dapat terjadi pada kami? Sepasang teman yang menjadi sepasang kekasih? Mungkinkakah?

Should I just act dumb and pretend not to know?
Should I just act dumb and pretend not to know too?
What do we do about us?

You’re the love love, come to me a little bit
I’m also in love love, I’m still a little scared
Cause we wait wait, we’re two fools
Sometimes we’re like friends, sometimes like lovers
What are we?

Disinillah aku sekarang, berdiri sendiri di depan halaman sekolah dan menunggu seseorang menjemputku, Park Ahjushi. Salah seorang pekerja di rumah ku. 30 menit sudah, aku menunggu. Tak biasanya, Park ahjushi terlambat. Sejenak berpikir, akhirnya ku putuskan untuk pulang menggunakan bis. Tidak buruk juga kan naik kendaraan umum? Namun, belum sempat niat ku terwujud, sebuah tangan telah berhasil menarik tubuhku untuk naik ke dalam sebuah mobil, mobil yang sangat ku kenal dengan baik.

“Daripada kau pulang sendiri, lebih baik kau pulang denganku. Tak tahukah, kau bahwa diluar itu sangat berbahaya?” ucap Sungjae sesaat mobil ini mulai melaju meninggalkan lingkungan sekolah.

Tunggu, perasaan apa ini, mengapa jantung ku berdegup tak seperti biasanya. Apa yang salah? Haruskah aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan jantung ku?

“Namjoo-ya, kau tak apa? Mengapa kau diam saja?”

“Eoh..” secara perlahan aku pun tersedar dan hanya menatap wajah Sungjae bingung.

“Sepertinya kau mengantuk, kemari.. bersandarlah pada pundakku..” ucapnya enteng.

“Mwo? Tap..” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tangan panjang Sungjae kini telah berhasil menarikku untuk bersandar pada pundaknya.

Jantung ku! Tunggu, ini bukan suara Jantung ku, jadi.. apakah mungkin? Jantung Sungjae..

Honestly, on days I see you I can’t stop looking un the mirror
Everyone says it’s like we’re dating
I deny it but my heart flutters for some reasons

When I jokingly hug you sometimes
My heart tickles, I cant hold it in
Don’t think so hard
Fine, I’ll stop
Please read my hear

Beberapa hari kemudian..

Disinilah aku sekarang, di kamarku. Berkutat dengan sejumlah pakaian yang akan aku pakai. Sungguh aku bingung, aku harus memakai apa hari ini, jeans kah atau mini dress kah?? Arghh.. hal ini benar-benar membuatku gila.

“Namjoo-ya, apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kamar mu seperti kapal pecah?” Tanya Taeyeon eonni, yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamarku.

“Eonni, kau mengagetkan ku. Apa yang eonni lakukan di kamar ku?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, eonni ku yang satu ini lebih memilih untuk tersenyum. Tersenyum penuh arti. Aku pun hanya menatap senyuman itu dengan wajah tak mengerti.

“Pangeran mu, sudah datang dan sekarang ia tengah menunggu mu dibawah. Kalian akan berkencan hari ini?”

“Pangeran? Maksud eonni siapa?”

“Sungjae” jawab eonni santai seraya mendudukan tubuhnya di atas tempat tidurku.

“Mwo? Jadi anak itu menjemputku kesini? Bukankah kami berempat berjanji bertemu di café?”

“Berempat? Bukankah hari ini kalian akan berkencan? Mengapa berempat? Double date kah?” selidik eonni ku satu ini, tanpa henti.

“Eonni…. Maksud eonni apa? Mana mungkin aku berkencan dengan Sungjae. Hari ini kami hanya akan makan diluar, merayakan satu tahun anniversary Minwoo-Jisoo” jawab ku mencoba menjelaskan semua kesalahpahaman ini.

“Benarkah? Tapi, jika ini bukan kencan, mengapa kau harus bingung memilih baju yang akan kau pakai? Mencurigakan.”

“Eonni” pekik ku frustasi.

“Sudahlah, cepatlah turun. Temui Sungjae dan selamat berkencan adik kecilku” goda eonni ku, lagi dan lagi.

“Eonni………………………”

You’re the love love, come to me a little bit
I’m also in love love, I’m still a little scraed
Cause we wait wait, we’re two fools
Sometimes we’re like friends, sometimes like loves
What are we?

Setelah sebelumnya berkutat dengan kebingungan dalam memilih baju yang layak untuk aku pakai, akhirnya aku memutuskan untuk memakai sebuah mini dress berwarna putih, cukup simple dan cukup manis. Tunggu? Sejak kapan aku memperhatikan penampilan ku?

Aku pun segera keluar dari kamarku dan bergegas menemui sosok namja yang telah menunggu ku cukup lama. Ya, sekitar 60 menit? Apakah aku terlalu lama? Sudahlah. Setelah berhasil menuruni anak tangga, mata ku pun langsung menangkap sosok Sungjae yang kini tengah asik mengobrol dengan Taeyeon eonni dan.. pacarnya, Baekhyun oppa. Dari jarak yang cukup jauh saja, aku sudah bisa menangkap sosok tinggi Sungjae yang kini tengah mengenakan pakaian yang terlihat santai namun tetap sopan.

“Sungjae-ya, mian telah membuatmu menunggu. Kajja” ucapku akhirnya setelah langkah kaki ku ini telah menapak pada lantai ruang tamu.

“Aigo, benarkah ini adik eonni? Kau berdandan saeng? Untuk?” goda Taeyeon eonni yang entah untuk keberapa kalinya dalam satu hari ini.

“Kau terlihat berbeda, Namjoo-ya” ucap Baekhyun oppaseraya menatapku tak percaya.

“Eonni, Oppa, apa kalian sudah selesai? Kami berdua harus segera pergi. Dan iya, ini aku adik dan calon adik ipar oppa, Kim Namjoo. Kami pergi” jawabku sedikit kesal melihat tingkah sepasang kekasih ini yang kadang-kadang menyebalkan.

“Sungjae-ya, kajja”

“Noona, Hyung. Kami berangkat”

“Ne, hati-hati ya calon adik iparku”

Sesaat langkah ku pun langsung terhenti saat telinga ku menangkap ucapan aneh Taeyeon eonni, calon adik ipar maksudnya? Dengan segera aku pun mulai membalikan badanku, tapi sial karena kurang berhati-hati, aku pun malah membuat kaki ku terkilir dan membuat tubuhku menjadi tak seimbang. Mungkinkah aku akan terjatuh dan melukai seluruh bagian tubuhku?

Tapi tidak, aku tak merasakan sesuatu yang menyakitkan. Sebaliknya, aku merasakan sebuah tangan yang hangat menahan ku dan membawa ku kedalam pelukannya. Aroma ini?

Perlahan aku pun mulai melirik sosok yang telah berbaik hati menolong gadis ceroboh seperti ku ini, Sungjae. Dapat ku rasakan hembusan napas Sungjae di depan wajahku mengingat jarak wajah kami saat ini sangatlah dekat. Kami pun hanya saling menatap satu sama lain, tanpa berniat untuk melepaskan segala kontak fisik yang tengah kami lakukan.

“EHEM, apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian telah pergi? Mengapa masih berdiam disini?”

Di tengah kebisuan kami, tiba-tiba kami menangkap suara Baekhyun oppa, suara yang berhasil membuat kami tersadar dan kembali pada akal sehat kami.

“YAKK, kau seharusnya berhati-hati. Bagaimana jika tadi kau jatuh? Dasar, kajja! Hyung, kami pergi” ucap Sungjae cepat bagaikan kecepatan kereta Shinkansen di jepang sana.

Aku pun hanya bisa melongo mendengar ucapan yang super cepatnya itu. Melihat ku yang masih berdiam diri tanpa berniat untuk melangkah, akhirnya Sungjae pun mulai menarik salah satu tanganku dan menyeret ku lagi dan lagi -.- bocah ini, sampai kapan ia akan menganggapku seperti seekor anjing.

Tell me, be honest with me
Let me talk talk, can we start?
Don’t be late late, love is timing
Will you come to me before it’s too late?

When we walk on busy streets
Naturally hold my hand
My heart will pound
Maybe, maybe, we..
Today, you, today, me
Will you tell me you love me?

Aku dan Sungjae pun akhirnya tiba di salah satu caféyang menjadi tempat perayaan anniversaryMinwoo dan Jisoo. Setelah berbasa-basi sejenak dan meminta maaf karena kami datang terlambat, acara makan pun dimulai, didepan kami kini telah tersaji berbagai macam makanan yang tentunya sangat menggoda untuk kami santap. Setelah menghabiskan waktu 2 jam akhirnya kami pun selesai dengan acara makan kami. Apakah kami akan pulang? Jawabannya tidak. Dengan penuh paksaan yang dilakukan oleh Minwoo dan Jisoo, terpaksa aku dan Sungjae pun ikut ke tempat destinasi mereka selanjutnya. Sebuah bukit, yang tidak jauh dari tempat kami tinggal.

Bukit Harapan, itulah nama bukit ini. entahlah, mengapa bukit ini dinamakan seperti itu, mungkinkah bukit ini dapat mengabulkan seluruh harapan yang ada? Siapa yang tau?

Dengan langkah penuh hati-hati, aku pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kayu yang terdapat pada bukit ini. Sejuk, damai dan sepi, itulah suasana yang ditawarkan oleh bukit ini, meskipun bukit ini berada ditengah-tengah hiruk pikuk perkotaan, namun nuansa perkotaan tidak terasa sama sekali di bukit ini.

Aku pun mulai menghirup udara yang segar disini dan kembali menatap pemandangan kota dari atas bukit ini.

“Yaa, apa yang kau lakukan sendiri disini?” Tanya sebuah suara yang dapat ku tebak, itu pasti suara SungJae.

“Kau sendiri? Tunggu, Minwoo-Jisoo mana?” tanyaku bingung, saat mataku hanya melihat sosok Sungjae dihadapanku, tanpa didampingi oleh dua pasangan sejoli itu.

“Mereka disana, bersama Hyungdeul dan Noonadeul” jawab Sungjae seraya menunjuk segerombolan anak manusia jauh dibelakang kami.

Aku pun mulai membulatkan mataku saat ku sadari segerombolan manusia itu adalah orang-orang yang ku kenal.

“Itu..” ucapku tak percaya

“Yap, Suho hyung dan Chorong Noona, Minwoo-Jisoo, Baekhyun Hyung dan Taeyeon Noona dan yang terakhir Sehun Hyungdan Hyura Noona”

*Maaf ya, nama aku nyelip disini. Soalnya aku masih belum rela kalo suami aku dipasangin sama artis siapa -.- sakit, terlalu sakit rasanya kkk.*

“Mereka, mengapa mereka semua bisa ada disini?” tanyaku bingung dan segera kembali menatap pemandangan indah yang tersaji di hadapanku.

Bukannya menjawab, kini Sungjae malah memejamkan matanya dan mencoba untuk menikmati segarnya udara di bukit ini. Aku pun ikut terlarut dalam kebisuan ini seraya manik mata ku tak pernah lepas dari wajah tampannya. Tampan? Ya, aku baru menyadari jika Sungjae itu tampan, bahkan sangat tampan.

Udara dingin yang menyelimuti bukit ini pun mau tak mau membuat ku kedinginan, ditambah lagi aku hanya memakai mini dress lengan pendek dan ini sungguh menyiksaku. Aku pun secara perlahan mulai menggosok-gosok kedua telapak tanganku, berharap akan ada sedikit kehangatan disana.

Tanpa ku sadari tiba-tiba aku merasakan seseorang telah memakaikan sesuatu yang hangat pada pundak ku, sontak aku pun segera melirik ke samping dan menemukan bahwa Sungjae lah yang tengah menyelimutiku dengan jaket hangatnya.

“Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian terbuka seperti ini? Di tengah malam pula?” tanyanya kesal seraya tangannya sibuk merapikan jaketnya di pundak ku.

Aku pun hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, dan sungguh aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat ini. Oksigen, aku butuh oksigen sekarang.

“Gomawo” ucapku akhirnya setelah berhasil menetralkan detak jantungku.

“Hmmm..” Sungjae pun hanya berdehem pelan untuk menjawab ucapan terima kasih ku ini.

Kami pun terdiam cukup lama, tak ada kata yang terucap dari kedua bibir kami. Kami masih sibuk melihat pemandangan lampu-lampu kota yang tersaji secara nyata di hadapan kami.

Hingga akhirnya, ku rasakan pundak sebelah kiri ku memberat dan.. saat ini ku lihat kepala Sungjae tengah terjatuh nyaman di atas pundakku. Deg, sungguh. Hal ini membuat kerja jantung dan otak ku tak berfungsi kembali. Siapapun tolong aku..

“Namjoo-ya”

“Hmm..”

“Namjoo-ya, kau tahu.. aku menyukaimu, aniyolebih tepatnya aku mencintaimu”

Deg, jantung ku tiba-tiba berhenti berdetak saat seuntaian kata-kata itu keluar dari mulut sahabat ku sendiri, Yook SungJae.

“Kau tahu, alasan aku selama ini menolak yeoja-yeoja itu? Itu semua karena kau. Karena selama ini aku hanya selalu melihat ke arahmu dan aku tak tertarik dengan gadis lain. Tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau selalu menganggap ku sebagai seorang sahabat tak lebih. Bahkan, akhir-akhir ini kau sering bertemu dengan Namjoon sunbae di ruang musik, tidak kah kau tau bahwa hal itu sangat membuatku sakit?”

“Tidak bisakah sekali saja kau menganggapku sebagai seorang pria, Namjoo-ya?” lanjutnya lagi seraya menghadapkan wajahnya tepat di hadapan ku.

“Sungjae-ya”

“Wae? Kau tak mau? Kau tak bisa? Sudah kuduga..” balasnya dengan nada suara kecewa.

Kami pun mulai terdiam lagi, tak ada satu pun dari kami yang mulai mengeluarkan suaranya, bahkan suara bernapas pun tak ada?

DUARRRR … DUARRRRR…. DUARRRRRR…

Keheningan diantara kami pun akhirnya terintrupsi oleh suara kembang api yang meledak satu demi satu di gelapnya langit malam. Aku pun hanya tersenyum melihat indahnya warna-warna kembang api itu. Harapanku, mungkinkah harapanku itu benar-benar bisa terwujud malam ini?

“SungJae-ya, kau tau.. aku selalu ingin melihat kembang api diatas bukit bersama seseorang yang ku sayang dan..”

“Dan kau menyesal karena kau melihat kembang api ini bersama ku, bukannya bersama Namjoon sunbae?” potong Sungjae tiba-tiba yang berhasil membuat dahiku berkerut bingung.

“Yook Sungjae, menurut ku bukit ini benar-benar bukit harapan. Karena bukit ini telah mengabulkan harapanku. Melihat kembang api dan…” ucapku sengaja menggantung..

“Dan..?”

”Dan bersama dengan orang yang ku suka” ucapku pada akhirnya, seraya menggenggam tangan Sungjae erat.

Dapat ku lihat, raut wajah bingung tercetak jelas di wajah imut SungJae.

“Yook SungJae, aku juga menyukaimu.. aniyo, aku mencintaimu..” akhirnya untaian kata-kata keramat itu pun terucap dengan baik dari dalam bibirku.

“Mwo? Kau juga menyukai ku Namjoo-ya?”

Aku pun hanya mengangguk dan semakin mengeratkan genggaman tanganku pada tangan Sungjae.

“Kau serius? Astaga.. terima kasih Namjoo-ya” ucap Sungjae seraya tangannya menarik tubuhku dalam pelukannya dan memutar tubuhku kesagala penjuru arah.

“Sungjae-ya, hentikan. Bagaimana jika aku jatuh” jerit ku khawatir.

“Tidak akan, aku tak akan pernah membiarkan mu jatuh. Kecuali kau jatuh kedalam pelukanku” ucapnya lagi dan langsung menghentikan aksi memutarnya.

“Saranghae Namjoo-ya”

“Saranghae Sungjae-ya”

Dan kegiatan kami malam ini pun akhirnya ditutup oleh sebuah ciuman manis yang Sungjae berikan diatas bibir merah muda ku. Ciuman pertama ku.

.
.

“Astaga, malam ini kita memiliki couple baru ternyata, chukhae” teriak salah satu suara dari arah belakang kami, suara Minwoo.

“Calon adik ipar, selamat yaa” teriak Taeyeon eonnitak mau kalah.

“Kalian, ditunggu ya makan-makannya” kali ini Jisoo lah yang membuka suara.

Dan dapat ku lihat semua orang dibelakang kami kini tengah tersenyum bahagia melihat cinta kami yang akhirnya bersatu..

Sahabatku, aniyo pacar ku.. YOOK SUNGJAE..

SARANGHAE..

You’re the love love, can you see my heart?
I’m also in love love, I can only see you
Love is you you, as much as I waited
I won’t ever let you go, tell me

I love only you
I really like you too
Always you you, love is timing
You’re my friend, you’re my lover

END.

Akhirnya ceritanya selesai juga ^^ semoga kalian suka ya, sama jalan ceritanya..
Ohya, waktu pembuatan cerita ini aku ditemenin sama laguI KNOW I KNOW ( David Oh feat Bomi A-Pink) dan Photograph (Sungjae BTOB feat Namjoo A-Pink)
Dan dua lagu ini, sangat dianjurkan untuk kalian denger waktu baca cerita ini, apalagi lagu I KNOW I KNOW, wajib banget itu mah buat didenger kkk.

Bye.. annyeong!!
See you, di next cerita yang mungkin gak kalah aneh dari cerita ini kkk. *wink

– tertanda istri Sehun yang entah keberapa..

@oohsehun @aniespur << check my IG and my nampyeon IG kkk.

Contact me : LineID >> aniespurniati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s