(Fanfict) Cooking Time

Cooking time.

Cast :
Lee Kiseop (U-Kiss’ Kiseop)
Park HyunRi (OC)

Genre : Romance, Teen

Author : LeeHyuRa (@aniespur)

940310-940412

^^

(Fanfict) Cooking Time

Cooking? It’s Okay, I can do it – Park HyunRi

Hari ini disinilah aku sekarang, disalah satu sudut aparrtemen minimalisku, berkutat dengan layar smartphonekesayanganku. Jangan kalian berpikir bahwa aku tengah asik ber-online ria, kini, saat ini, aku tengah mencari berbagai resep makanan yang mungkin bisa aku buat sekarang. Resep makanan yang mewah namun praktis lebih tepatnya. Mengingat sore nanti, namjachingu-ku – Kiseop akan datang ke apartemenku ini. Disela-sela kesibukannya sebagai member dari boyband ternama U-Kiss, ia tak pernah sekalipun melupakan kewajibannya kepadaku sebagai yeojachingu-nya, yaitu mengunjungiku minimal 2 minggu sekali. Dan hari inilah, kami berdua akhirnya bertemu, setelah sebelumnya selama 3 bulan bahkan lebih kami tak bertemu. Hal ini, karena ia lebih memilih untuk sibuk dengan jadwal grupnya di Jepang sana. Meninggalkan aku seorang diri di korea, meninggalkan gadis yang hampir 3 tahun telah menyandang status sebagai pacar resmi-nya, menyakitkan? Tentu. Hal ini tentu sangat menyesakan untukku, tapi mau begaimana lagi, inilah konsekuensi yang harus aku terima tatkala aku memilih untuk menjadi pacar seorang Lee Kiseop, Kiseop U-Kiss.

Hampir 2 jam aku berkutat dengan smartphonedigenggamanku ini, berpindah dari satu web ke web yang lain hanya untuk mencari satu resep masakan yang setidaknya bisa aku buat, mengingat aku ini memang tak pernah bisa memasak semenjak aku lahir ke dunia ini, mungkin ini adalah takdirku. Tapi tidak, demi seorang Lee Kiseop, aku harus bisa memasak setidaknya satu masakan. Akan ku tunjukan pada Kiseop oppa, bahwa aku, Park HyunRi kini berbeda dengan Park HyunRi 3 tahun yang lalu.

“It’s time to Cooking” Ujarku penuh semangat tatkala akhirnya aku berhasil menemukan satu jenis masakan yang mungkin dapat aku buat dengan tanganku sendiri, Bibimbap – salah satu masakan khas korea yang jika aku lihat, masakan ini sangat mudah untuk dibuat, bahkan aku pun ‘mungkin’ bisa membuatnya.

Mata ku pun kini tertarik untuk melihat berbagai bahan makanan yang kini telah teronggok cantik di meja dapur – ya bahan dasar untuk membuat Bibimbap. Dapat ku lihat bellflower, bracken, bean sprout, zucchini, spinach, carrot, shiitake mushroom dan Korean beef. Sungguh bahan-bahan ini sangat asing baik dimataku ataupun ditelingaku. Lalu, bagaimana bisa aku mendapatkan bahan-bahan ini, mengingat aku saja tak terlalu kenal dengan bentuk bahkan nama mereka? Jawabannya, Online shop. Ya, aku membeli semua bahan masakanku ini secara online, aku hanya cukup meng-copy-paste nama-nama bahan masakanku ini dari resep yang ada, lalu pergi ke web salah satu mini market dan tralaaa.. dalam waktu kurang dari 20 menit, belanjaanku ini pun telah sampai dengan selamat di tanganku. Cukup mudah dan praktis bukan? Kalian tentu wajib mencobanya..

Mataku ini pun kini ku alihkan kembali, pada layar smartphone ku, untuk melihat apa yang harus aku lakukan sekarang.

“Memotong, mengiris. Cukup mudah” gumamku mencoba mengulang apa yang tengah ku baca.

Bukankah memotong dan mengiris itu cukup mudah? Bahkan untuk gadis sepertiku yang selama hampir 21 tahun hidupku ini, aku tak pernah sekalipun memegang sebuah benda yang bernama pisau. Secara perlahan aku pun mulai memotong dan mengiris Carrot dan bellflower. Tapi sungguh, aku tak pernah tau jika memotong dan mengiris ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sulit dan membuatku frustasi. Ditambah Carrot yang tengah ku coba iris ini, malahan melompat ke berbagai arah. Mwo? Mengapa sesulit ini? Merasa kegiatan memotong ini tak berhasil, aku pun kini beralih untuk memanaskan sepanci air, ya.. menurut resep yang ku baca, aku perlu memanaskan air dan merebus sebentar beansprout. Dengan sedikit ragu, aku pun mulai menuangkan dua gelas air pada sebuah panci dan mulai memanaskannya. Beberapa menit kemudian dapat kulihat gelembung-gelembung kecil mulai muncul dipermukaan air itu dan aku pun langsung memasukan segenggam bean sprout ke dalamnya. 3 menit berlalu, Apakah sudah matang? Dengan bodohnya, aku pun memasukan tangan kananku ini kedalam panci tersebut, melupakan satu kenyataan bahwa panci tersebut tengah dalam keadaan panas dan mendidih. Seketika aku pun berteriak penuh kesakitan dan saat itu juga dapat ku dengar suara derap langkah kaki yang tengah mendekat kearah dapur dengan tergesa-gesa.

“Chagi-ya, kenapa kau teriak seperti itu?” ujar sebuah suara yang sungguh sangat ku kenal, Kiseop oppa. Entah sejak kapan tepatnya ia masuk ke dalam apartemenku ini, bahkan aku tak mendengar ia membunyikan bel. Apa mungkin ia memakai password untuk masuk? Bagaimana ia bisa tahu password apartemanku? Sungguh, aku tak mengerti..

Dengan wajah yang menahan perih, aku pun masih menatap polos dan tak percaya ke arah Kiseop oppa yang kini tengah berdiri tepat dihadapanku.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi seraya tangannya mulai mengambil alih tanganku yang terluka.

“Bodoh, apa yang kau lakukan pada tanganmu ini, apa kau mencoba untuk memasak tanganmu sendiri?” ucapnya panjang lebar dan mencoba untuk mendinginkan tanganku yang terlihat sedikit melepuh.

“Aww..” Ringisku saat tak sengaja ku rasakan bibir Kiseop oppa mengenai ujung jariku yang terluka.

“Apa ini sakit?”

Aku pun hanya mengangguk, mencoba menjawab pertanyaan konyolnya itu.Tentu sakit, jika tidak mengapa aku harus meringis segala.

“Ikut aku”

*

Disinilah kami sekarang, di ruang tamu apartemenku. Dapat ku lihat kini Kiseop oppa tengah telaten merawat jari tanganku yang terluka dan terkadang ia pun meniup-niupkan udara kecil ke atas luka ku ini. Aku pun hanya bisa tersipu malu mendapat perhatian dan perlakuannya yang sangat manis ini.

“Apa masih sakit?” tanyanya yang berhasil menyadarkanku dari lamunan alam bawah sadarku.

“Aniyo oppa, gomawo” ucapku sedikit menunduk, karena jujur aku malu melihat Kiseop oppa dalam jarak yang sedekat ini.

“Jadi, mysweetie.. apa yang membuatmu terluka seperti ini? dan sejak kapan kau berkutat dengan dapur?” Tanya Kiseop oppa penuh penasaran.

Aku pun hanya bisa membuka dan menutup kelopak mataku bergantian, seraya otakku tengah mencoba untuk mencari satu jawaban yang tepat.

“Aigo~ kenapa kau malah ber-aegyo dihadapanku seperti ini, chagi-ya..” celetuk Kiseop oppayang berhasil membuat wajahku bersemu merah merona, ditambah lagi kini tangannya tengah mengelus pucuk kepalaku lembut.

“Oppa, aku mencoba untuk membuatmu makanan. Tapi, inilah yang terjadi. Aku malah melukai jariku yang berharga” adu-ku pada akhirnya seraya menunjukkan jari ku yang kini tengah terbalut oleh kain kassa.

“Memasak? Mengapa?”

“Karena aku ingin menjadi calon istri yang baik untuk oppa”

Dapat ku lihat kini oppatengah tersenyum bahagia, seraya salah satu tangannya menarikku untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya.

“Aigo, oppa tak tahu sejak kapan yeojachiguoppa ini berubah jadi dewasa seperti ini” godanya padaku dan tetap mempertahankan senyum manis diwajahnya.

“Oppa..” gumamku tak terima mendengar entah pujian atau ejekan yang tadi oppa lontarkan.

“Sweetie, meskipun kau tak pandai memasak, tak apa. Karena oppaakan dengan senang hati memasakkan segala macam makanan untukmu” ujar Kiseop oppa sesaat ia berhasil melonggarkan pelukan kami.

Aku pun hanya bisa menatap ke arah oppakagum, terpesona lebih tepatnya.

“Haruskah oppa memperlihatkan padamu, kemampuan oppa memasak?”

Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum saat mendengar usulannya itu.
“KAJJA OPPA..”

*

Disinilah aku sekarang, duduk manis disalah satu kursi di meja makan seraya mataku terfokus pada satu sosok yang kini tengah sibuk dengan pisau, panci dan bahan masakan lainnya. Ya, aku kini tengah memperhatikan Kiseop oppa yang tengah memasak. Awalnya aku berniat untuk membantu oppa memasak, bukankah lebih terlihat romantis jika kita memasak bersama? Namun dengan kata-kata yang halus namun tegas, Kiseop oppamelarangku untuk mendekat ke arahnya. Ia tak mau jika aku dengan tidak sengajanya akan melukai sebagian organ tubuhku ini lagi. Jadi disinilah aku sekarang, memandangi sosok namja yang kini tengah focus dengan pisau yang ada ditangannya. Dari berbagai sudut, dapat ku lihat bahwa oppa sangat-sangatlah cocok menjadi seorang juru masak. Ia begitu telaten dan sangat professional saat memegang pisau dan peralatan lainnya. Sekali-kali Kiseop oppapun memandang ke arahku dan menyunggingkan sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat aku terbang dibuatnya. Jari-jarinya yang mungil, sungguh sangat telaten saat menyusun berbagai bahan sayur ke dalam sebuah mangkuk. Bukankah ia juga seorang manusia? Mengapa ia sangat indah dan mengagumkan sekali. Sungguh sangat beruntung aku mendapat sosok namjachinguyang sangat sempurna ini.

“TARAA.. makanannya telah siap, myswettie” ucapnya yang berhasil membawa pikiranku kembali dari dunia ku sendiri.

“Oppa..” ucapku kagum sesaat lidahku ini merasakan hasil masakannya ini.

“Hemm.. apa tidak enak?” tanyanya tak yakin.

Akupun kembali menyuapkan satu sendok penuh Bibimbap ke dalam mulutku dan mengunyahnya dengan sedikit tergesa-gesa.

“Yaa, sweetheart pelan-pelan makannya”

“Tapi oppa, ini enak..” ucapku tak terlalu jelas, mengingat mulutku kini masih mencoba untuk mengunyah Bibimbap.

“Kau sangat lucu”

“Oppa, bisakah oppamengajarkan aku bagaimana caranya memasak? Aku juga ingin bisa memasak seperti oppa” pintaku disertai Aegyo, yang sebisa mungkin aku tunjukan.

“Oke, kelak oppa akan mengajari mu”

“Kapan?”

“Saat oppa ada waktu luang, kau tak lupa kan, bulan ini dan 8 bulan kedepan, oppa akan sibuk melakukan promosi dan konser dengan U-Kiss”

“Arra, arraseo oppa. Datanglah saat oppa punya waktu luang” ucapku terpaksa, terpaksa untuk tersenyum.

“Kau tak marah kan chagi-ya?” tanyanya khawatir.

“Aniyo”

“Benarkah?”

“Eoh”

“Pergilah oppa, bukankah tadi oppa bilang, oppa sibuk?”

“Aniyo, oppa hari ini tak sibuk chagi-ya”

“Tapi, bukankah tadi oppabilang bahwa oppa sibuk? Pergilah. Aku yang akan membereskan ini dan mencuci semua cucian yang ada. Terimakasih untuk makananya” ucapku datar dan tanpa melirik kearah sosok yang tengah aku ajak bicara. Aku marah, ya. Aku marah, kesal dan perasaan kecewa lainnya bercampur aduk dalam benakku saat oppabilang jika kami – aku dan dia tak akan bertemu lagi setelah 8 bulan kemudian. Apa dia gila? 8 bulan? Hampir satu tahun? Jadi selama 8 bulan aku harus hidup sendiri, tanpa dirinya? Mengapa kita tidak akhiri saja sekarang? Agar statusku lebih jelas kedepannya.

Tanpa memperdulikan Kiseop oppa, aku pun mulai membawa setumpukan piring dan gelas, bekas kegiatan makan kami ke arah tempat pencuci piring. Sesampainya disana aku pun tenggelam pada kegiatan ku kini, -mencuci piring. Tanpa menghiraukan sesosok manusia yang kini tengah menatapku tajam disebrang sana. Dapat ku rasakan Kiseop oppa berjalan pelan namun pasti ke arahku, dan tak lama ku rasakan dua buah tangan telah berhasil melingkar manis di area pinggangku.

“Oppa, belum pergi?” tanyaku masih tetap datar.

“Mianhae, aku tak bermaksud untuk membuatmu marah.. ak-“

“Pergilah dan sampai bertemu 8 bulan lagi atau mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi” gumamku tanpa ekspresi, dingin, datar dan menusuk.

Dapat ku rasakan tubuh Kiseop Oppamenegang sesaat ia mendengar ucapanku yang terdengar dingin itu. Dalam hitungan sepersekian detik, Kiseop oppa pun berhasil memutar balik tubuhku dan sekarang kami tengah berhadapan satu sama lain, masih terdiam dan tanpa ada sebuah kata yang terucap.

“Apa maksudmu? Mengapa kita tak akan berjumpa lagi?” tanyanya dengan napas yang memburu.

“Bukankah itu yang oppa mau? Aku tak akan memaksa oppa untuk terus melanjutkan hubungan ini, jika kenyataannya oppamemang merasa terbebani. Fokuslah pada grup mu oppa, dan abaikan aku” ucapku setenang mungkin dan mencoba untuk menahan air mataku yang ingin keluar.

“Bagaimana bisa aku mengabaikanmu dan meninggalkanmu? Apa kau bodoh? Ini semua, pekerjaan ku ini aku lakukan semuanya demi masa depan kita. Untuk apa aku bekerja keras selama ini, jika pada kenyataannya aku harus kehilanganmu Park HyunRi. Aku tak bisa dan tak akan pernah bisa. Ini semua untukmu, semua kerja keras ku semua keringatku, ini semua hanya untuk mu, untuk masa depan kita”

Aku hanya terdiam mendengar semua penjelasan yang keluar dari mulut Kiseop oppa, sebesar itukah rasa cintanya padaku? Apa aku pantas menerima ini semua? Tanpa babibu, aku pun segera berhambur ke dalam dada bidang Kiseop oppa – ya aku memeluknya. Aku bingung, aku tak tahu harus menjawab apa setelah mendengar pengakuannya itu. Perlahan Kiseop oppa membalas pelukanku dan kami pun tenggelam dalam pelukan hangat yang sangat memabukkan bagi kami berdua.

“Oppa maafkan aku, aku terlalu terbawa emosi” gumamku masih tetap dalam pelukannya namun ku yakin oppa tetap bisa mendengarnya.

“Aniyo, oppa yang salah. Seharusnya oppa tak bilang kita akan bertemu 8 bulan lagi, oppa janji setiap sebulan sekali, ani dua minggu sekali atau bahkan seminggu sekali, oppa akan kembali ke apartemen mu dan meyakinkan kalau kau tidak akan kesepian, chagi-ya..” janjinya setelah kami melepaskan pelukan itu.

“Tak usah oppa, aku tak mau mebuatmu repot. Cukup kabari aku setiap 1 jam sekali dan pulanglah saat kau memiliki waktu luang, dan jangan genit-genit dengan semua fansmu.. itu sudah cukup oppa. Dan satu hal lagi, jangan terlalu sering menunjukan ABS mu didepan umum, karena itu adalah milikku” ucapku malu dan ragu, dan dapat ku yakini kini kedua pipiku telah berubah warna sempurna menjadi semerah tomat atau cherry.

Ku lihat Kiseop Oppatersenyum geli mendengar permintaanku itu, kembali Kiseop oppa kini memelukku dengan sangat erat.

“Aku tau, aku ini dan seluruh tubuhku ini adalah milikmu. Dan begitu juga sebaliknya”

“Kau, berhenti menggunakan rok mini dan segala macam pakaian yang mini dan tembus pandang, karena kau adalah milikku” sambung Kiseop oppa seraya mencubit hidungku gemas.

“You’re mine”

“Yes, oppa is mine”

END.

Let’s be Friend, Chingu-ya ^^

Contact me : LineID >> aniespurniati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s